Jul 07
31
Beranilah untuk Berkata TIDAK!
Saya tidak tega, mengatakan tidak
Pernahkah kita berhadapan dengan posisi harus mengatakan jawaban ya dan tidak? Tentu sering sekali kita menghadapi kondisi seperti itu. Bahkan saking ‘baik hatinya’ ada ikhwah yang ketika diminta, diberi amanah selalu diterima. Sehingga dikenal sebagai ikhwah YES! Ikhwah OK BOS! Ikhwah SIAP!!! Ikhwah yang tidak bisa mengatakan tidak, tidak tega menolak sebuah permintaan. Kenyataannya, amanah yang banyak justru tidak (selamanya) semuanya berjalan baik. Hal yang paling sering dijumpai adalah terlantarnya amanah. Yang seharusnya menjadi perhatian adalah bukan banyaknya amanah yang kita kejar, tapi kualitasnya meskipun itu sedikit yang dilakukan.
Dalam keseharian dan organisasi, baik posisi kita sebagai pemimpin atau yang dipimpin, kedua kata pendek itu (Ya/Tidak) berimplikasi sangat besar. Namun, kita juga harus tahu bahwa kata ‘tidak’ merupakan pilar utama keseimbangan hidup, dalam konteks apapun. Ia merupakan salah satu modal penting bagi ketahanan diri. Hidup ini berliku. Berapit antara jurang dan tebing yang curam. Bertaburan rayuan dan godaan. Oleh karena itu diperlukan keberanian dan daya tahan yang memadai untuk menjalaninya. Dan, salah satu sumber penting daya tahan itu adalah keberanian untuk menolak sesuatu yang tidak baik.
Berkata tidak, dalam dimensi lain merupakan sayap sebelah bagi seorang muslim, selain kata ‘ya’. Ketaatan kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada aturan Islam, harus diimbangi dengan kata tidak untuk seluruh pantangannya. Menyuruh kepada kebajikan, harus diimbangi dengan mencegah kemungkaran. Menyanggupi suatu hal, harus diimbangi dengan menolak hal lain yang tidak sesuai.
Kendaraan Tanpa Rem
Kata ‘tidak’ ibarat rem bagi kendaraan hidup kita. Bisakah kita membayangkan jika kendaraan tanpa rem? Bisakah kita membayangkan jika kendaraan hanya mempunyai pedal gas semata? Tentu ia akan melaju begitu kencangnya, menabrak kesana kemari dan hanya berhenti jika sudah hancur lebur menjadi mobil rongsokan. Bahkan korbannya tidak hanya si pengendara saja, bisa jadi orang yang tidak tahu apa-apa terkena dampaknya juga. Dampak kesembronoan kita melaju kencang tanpa rem. Dengan penolakan, penafikan, berkata tidak, maka perjalanan hidup ini ada yang mengeremnya.
zainuri hanif, tipugm2003
Selasa, 31 Juli 2007_Ambarrukmo
Ditulis dari berbagai sumber (dari Tarbawi, pengalaman pribadi dan dari orang yang saya cintai karena Allah)
Beratapkan Langit, Beralaskan Bumi
Hamparan langit maha sempurna
Bertahta bintang-bintang angkasa
Namun satu bintang yang berpijar
Teruntai turun menyapa aku
Agar tutur kata yang terucap
Agar damai yang kurasakan
Kilau sinarnya sentuh wajahku
Kepedihanku pun terhapuskan
(teringat sebuah syair lagu favorit SMP dulu ^_^ )





















