Jul 07
31
Mengapa Kita Harus Berkata “TIDAK”?
Banyak sekali bentuk dan manfaat penolakan, sebagai manifestasi dari kata tidak. Beberapa contoh tempat dimana kata ‘tidak’ harus disuarakan :
1. “Tidak”, Demi Kemaslahatan Orang Banyak
Berkata tidak, kadang dampaknya tidak saja kembali kepada diri sendiri. Pada orang-orang tertentu, penolakan atas sesuatu, bisa berdampak pada orang lain, bahkan berakibat besar pada banyak orang atau masyarakat luas. Mereka yang berada dalam posisi ini, bisa bermacam-macam. Bisa seorang ulama, seorang pemimpin bangsa, pemimpin organisasi, pemimpin partai, pemimpin perusahaan, tokoh masyarakat, atau orang penting di lingkungan tertentu, sekecil apapun, bahkan seorang kepala rumah tangga maupun ibu rumah tangga bagi lingkungan rumahnya. Mereka-mereka itu, sesungguhnya, tidak bisa begitu saja bertindak untuk dan atas nama kepentingan pribadi. Sebab, apa yang mereka lakukan akan berdampak kepada orang-orang yang ada di lingkungannya. Seperti pepatah, guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Atau air pancuran, jatuhnya ke pelimbahan juga
Boleh jadi, setiap kita sebenarnya adalah orang penting, pada lingkup wilayah kita yang berbeda bentuk maupun besar dan kecilnya. Dalam bahasa Rasulullah, hal ini dinyatakan dengan sabdanya, “Setiap kamu adalah pemimpin. Dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” Karenanya keharusan kita untuk berani berkata tidak, pada hal-hal yang tidak baik, bukan saja untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga untuk orang-orang yang mengelilingi kita itu, atau orang-orang yang dibawah pimpinan kita. Seorang anak akan terbiasa berbohong, manakala kedua orang tuanya juga terbiasa berbohong. Seorang bawahan sangat mungkin akan mencuri, bila atasannya ternyata juga pencuri. Rakyat pun apalagi, jika pemimpinnya bejat, secara umum mereka akan bejat. Rasulullah bersabda, ‘Rakyat itu, sangat bergantung kepada ‘agama’ rajanya.” Ini tentu pandangan umum. Tanpa mengecualikan orang-orang tertentu yang tetap menjadi baik pada lingkungan seburuk apapun. Dalam Islam, siapa yang mengukir jalan keburukan, lalu jalan itu diikuti oleh orang lian, maka ia akan kebagian dosa dari pengikutnya itu.Karenanya, dibutuhkan keberanian untuk berkata tidak. Terlebih bagi orang-orang yang merasa dirinya menjadi figure public, tokoh terkenal, atau orang yang hidup dalam komunitas tertentu. Ada ungkapan terkenal yang mengatakan, “tergelincirnya tokoh, lebih mengerikan dari tergelincirnya dunia.”
2. “Tidak” Demi Kebaikan Masa Depan
Berkata tidak, seringkali manfaatnya tidak hanya sesaat. Penolakan atas sesuatu yang buruk, bisa juga meninggalkan jejak-jejak kebaikan hingga beberapa tahun atau beberapa masa kemudian. Bahkan mungkin beberapa generasi kemudian.Keputusan kita hari ini, seringkali merupakan bagian sangat penting bagi warna dan arah kehidupan ke depan. Hari ini adalah titik awal dari hari esok. Begitu seterusnya. Maka kapanpun kita memulai hari-hari itu. Lalu kita harus berani berkata tidak. Semua keberanian berkata ‘tidak’ dan segala penolakan itu, sesungguhnya adalah investasi mahal untuk hari depan kita di dunia maupun di akherat. Tanyalah kepada setiap orang tua, bila saja bisa kembali ke masa muda, pasti banyak hal yang ingin ia tolak, sebanyak apa yang ia lakukan. Misalnya saja, mengatakan tidak untuk rokok karena di masa tua semua peringatan terserangnya beberapa penyakit di bungkus rokok yang dahulu tidak digubrisnya di masa muda, ada penyakit yang terbukti di masa tuanya. Paru-paru rusak, sakit jantung, dll. Atau seorang pemuda yang menyesal tidak lulus UM/SPMB karena masa-masanya di akhir SMA yang seharusnya untuk belajar, justru digunakan untuk sesuatu hal lain yang sebetulnya tidak lebih penting dari belajar itu sendiri.
3. “Tidak” Demi Mendapatkan Ketenangan Hati
Berkata tidak, atau menolak hal-hal tertentu yang tidak baik, punya kaitan kuat dengan ketenangan hati. Karena hati itu tidak bisa dibohongi. Hati manusia hidup di atas fitrah yang telah ditetapkan Allah SWT. Bila kita melakukan keburukan dan kejahatan, maka akan ada rasa gelisah di hati. Kecuali hati orang-orang yang sudah dikunci mati oleh Allah, yang justru tidak bisa hidup kecuali dengan kejahatan.Besar kecilnya rasa gelisah itu, tergantung kepada kualitas dan mutu hati tersebut. Bila hati itu penuh dengan cahaya iman, maka ia akan terguncang dengan sedikit tindak kesalahan. Kegelisahan itu, lantas menjadi tenaga besar untuk berkata tidak, menolak keburukan, dan meninggalkannya, lalu memohon ampun kepada Allah. Seperti tergambar dalam Al Qur’an, “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran : 135)Maka, berkata tidak dan menolak keburukan, sebenarnya salah satu bentuk dari memberikan makanan hati. Sekaligus sumber bagi ketenangannya.
4. “Tidak”, Demi Menjaga Stamina
Berkata tidak, terkadang kita perlukan demi menjaga stamina. Stamina fisik dan ruhiyah. Belum sempat kita mengembalikan stamina dari amanah sebelumnya, setumpuk amanah kita terima lagi. Belum sempat kita melakukan pekerjaan dan tugas yang kita tinggalkan sebelumnya, tugas baru kita ambil lagi. Akibatnya fatal, bisa jadi fisik kita drop, jatuh sakit, bahkan perlu waktu lebih banyak untuk menyembuhkannya. Akhirnya amanah terbengkalai lebih banyak lagi. Yang lebih parah lagi jika justru membuat orang lain, keluarga saudara, teman, repot mengurusi kita. Maka, “bernafaslah” sesaat dari amanah satu ke amanah yang lainnya. Susun lagi tangga-tangga prioritas kita.
5. “Tidak”, Demi Pembelaan
Berkata tidak untuk pembelaan artinya kita menolak sesuatu untuk membela sesuatu, untuk membela kebaikan dan kepentingan baik lainnya. Seperti untuk membela Islam, membela umat Islam, membela umat yang tertindas, membela hak-hak asasi manusia yang diberikan Allah SWT. Penolakan untuk pembelaan itu, bisa dalam lingkup kecil sampai yang paling besar. Dari urusan kecil sampai urusan besar.Seperti apa yang dilakukan oleh raja Faishal ketika dengan berani menolak Amerika yang ingin berulah di Timur Tengah. Malah Raja Faishal mengembargo minyak ke Amerika. Amerika pun kelabakan. Sampai akhirnya, raja Faishal terbunuh, juga karena order Amerika. Belajarlah untuk berkata tidak, setidaknya untuk apa yang tidak baik bagi diri kita sendiri, keluarga, dan orang-orang yang kita cintai karena Allah.





















