Jul 07
31
Pemimpin Berhak, Bahkan Wajib Tahu
Rak-rak buku yang berdebu itu kubersihkan, bukunya kutata lagi. Aku urutkan dari kecil ke besar. Yang tebal-tebal seperti manhaj Haraki, tafsir Ibnu Katsir jilid 4 disendirikan. Map-map dan kertas-kertas juga disendirikan. Buku yang pinjaman pun sebanyak lebih dari 20 judul kutempatkan dalam rak tersendiri. Biar tahu kalau ini pinjaman dan harus dikembalikan. Biar juga diprioritaskan untuk dibaca, ya karena sudah terlalu banyak yang menumpuk. Alhamdulillah setengahnya sudah terbaca, belum berkesempatan mengembalikan saja.
Sambil menata buku, di tanganku ada buku karangan Anis Matta yang sudah 2 tahun kupunya. Bukunya kecil, bersampul plastik apik, namun sangat manis. Isinya penting buat para ikhwan. Ya, apalagi kalo bukan kumpulan kolom ayah “Agar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga.”
Kubuka daftar isi, “Umar dan Syair Itu” di halaman 89
(rumah Umar di Madinah. Umar masuk dari luar rumah)
Umar : “Apakah Al-Syifa belum datang Atikah?”
Atikah : “Belum. Nampaknya kamu sedang menunggu berita baru darinya?”
Umar : “Ya”
Atikah : “Sekarang wahai Amirul Mukminin, sepertinya tidak ada lagi yang lebih penting bagimu kecuali mengorek sebanyak mungkin rahasia para wanita dari Al-Syifa.”
Umar : “Heh! Saya malah berharap Allah akan menyingkapkan rahasia di balik masalah ini serta sedetil-detilnya, dan menunjuki saya untuk menyelesaikan masalah ini secara tepat dan bijaksana. Apakah kamu lupa wahai Atikah, bahwa saya telah berjanji pada diriku tentang hak kaum muslimin di atas mimbar Rasululllah SAW. Bahwa jika mereka meninggalkan keluarga mereka untuk berjihad, maka sayalah yang akan menjadi penanggungjawab keluarga mereka?
Atikah : “Ini tidak ada hubungannya, wahai Amirul Mukminin (untung nggak bilang, ini logical fallacy, amirul mukminin,,,hehehe ^_^ upss afwan. Lanjutttt…). Apa pula pentingnya kamu mengorek semua ucapan atau senandung para wanita dalam kesendirian mereka?”
Umar : “Justru itulah saat-saat paling jujur yang menyingkap tabir kehidupan mereka yang sesungguhnya. Demi Allah, saya tidak pernah merasa begitu gembira mendengarkan bait-bait syair seperti kegembiraan yang kurasakan ketika saya mendengarkan syair yang disenandungkan wanita itu, dalam kesendiriannya, saat dia menduga bahwa tak seorang pun akan mendengarnya :
Begitu lama terasa malam ini
Merangkak hingga kelam
Pekat semua tepinya
Mana sanggup kupejamkan mata
Tanpa kekasih yang kucumbui
Oh Demi Allah, andai saja tak ada Dia
Dan tiada Tuhan selain hanya Dia
Niscayalah ini ranjang
Kan bergoyang semua sudutnya
Atikah : “Apakah kamu tertarik dengan syair itu, wahai amirul mukminin?”
Umar : “Tertarik atau tidak tertarik, yang pasti syair itu telah mengingatkan pada suatu masalah yang selama ini kuabaikan. Saya akan membatasi periode bagi setiap ekspedisi militer. Dan setiap laki-laki tidak boleh lagi meninggalkan istrinya melebihi kemampuannya untuk bertahan.
Singkat cerita, Umar kemudian bertanya kepada Hafshah tentang berapa lama wanita dapat menahan gejolak syahwatnya? Ketika Hafshah menjawab empat bulan Umar segera memutuskan bahwa lama bertugas para mujahidin tidak boleh lebih dari empat bulan. Setelah itu mereka harus kembali ke keluarganya.
Nah selanjutnya, biar ustadz Anis Matta atau ustadz Salim A Filllah saja yang memaknai lebih dalam kisah tersebut hubungannya dengan keluarga sakinah, mawadah wa rohmah. Kalau saya, mau mengambil aspek lainnnya saja.
Kalau kita membaca kisah tersebut, salah satu hal yang menonjol adalah tipe kepemimpinan Umar yang sangat pro-aktif, peduli, dan bertanggung jawab. Bahkan tidak malu untuk mencari tahu dalam hal pribadi seorang muslimah sekalipun. Karena hal ini terkait dengan sebuah kebijakan dalam tataran Negara dan janji yang sudah diucapkannya. Apa yang dilakukan Umar, disokong oleh keterbukaan putrinya, Hafshah dalam memberi informasi yang dibutuhkan.
Pemimpin Berhak, Bahkan Wajib Tahu
Kenapa Hafshah mau memberi tahu? Tentu, alasan utamanya bukan karena yang meminta adalah ayahnya. Bukan! Tetapi karena Hafshah tahu betul informasi tersebut sangat penting dan bermanfaat bagi umat pada umumnya. Membantu sang khalifah membuat kebijakan yang tepat, yang menentramkan dan menguatkan basrisan umat Muslim.
Oleh karena itu Umar berhak, bahkan wajib tahu terhadap semua masalah rakyatnya. Karena apapun yang terjadi terhadap rakyatnya, yang paling ditanya adalah pemimpinnya, yaitu Umar!
Bagaimana jika informasi seperti itu tidak diberikan kepada Umar? Bagaimana jadinya jika ada aparatur pemerintahan di bawahnya menyembunyikan informasi, bahkan menganggap sang pemimpin tidak perlu tahu. ”Itu bukan urusanmu wahai Umar!”. Ini daerah privasi. Ini akhwat only! Ikhwan dilarang masuk! Waduhhh, repot kalo gini…. Bisa jadi, mungkin sampai sekarang, Islam belum sampai ke kita. Bisa jadi! Masyarakat bobrok oleh “penyakitnya”, tentara dan ekspedisi militer yang dikirim tidak bisa menaklukkan dan memebebaskan bumi Allah dari thaggut dan tirani, mereka mengalami kejumudan dan kemandulan, tanpa semangat dan kekhawatiran yang macam-macam terhadap keluarganya di rumah. Terhadap persoalan-persoalan duniawi yang tidak terpenuhi dan tercukupi dengan baik. Semua itu karena ketidakbecusan pemimpin dalam mananej kebijakannya.
Apa Memang Semuanya Harus Diketahui Pemimpin?
Sudah tentu kita semua bisa menjawabnya.
Yang menjadi perhatian kita adalah, jangan sampai sang pemimpin dimintai pertanggungjawaban terhadap semua yang yang terjadi, ternyata dia tidak tahu menahu. Karena sang anak buah, merasa bahwa “ini info tidak penting, toh sang pemimpin juga tidak paham!” Jangan berprasangka dulu! (kapan-kapan kita bahas masalah prasangka ya, di lain kesempatan).
Mari bantu orang-orang yang meminpin kita agar dapat memimpin dengan baik. Membantunya untuk lebih tegas bersikap. Meringankan pertanggungjawabannnya di dunia maupun di akherat kelak. Mari menjadi jundi yang baik pula. Jangan sampai justru kita yang tidak bisa bertanggungjawab di akherat kelak karena berbuat dzolim kepada pemimpin kita.
Wallahualam bishowab…
Saatnya melanjutkan membereskan rak-rak yang masih berantakan itu…





















