Tidak Laripun Mati Akan Menjemput Kita

Tahu-tahu, eh tahu-tahu, yang dulu lecil kini sudah menjadi besar, tahu-tahu,eh tahu-tahu yang dulu masih kurus kuni telah menjadi besar, tahu-tahu, eh tahu-tahu yang duluya bayi kini sudah tua dan rambutnya beraban, hampir mati agaknya, dan sebagainya. “Tahu-tahu, eh tahu-tahu” itulah kalimat yang sering diucapkan oleh seseorang yang belum siap menerima perjalanan waktu yang dirasa semakin cepat, bahkan melebihi kemampuannya untuk menggali pengalaman.

Sebanding dengan perkembangan zaman, ternyata perkembangan maksiat juga tidak kalah pesat. Tak terkecuali Negara kita yang semakin tua malah semakin terkenal buruknya. Makin jauhnya kita dari syari’at islam memang tidak dapat diingkari lagi. Setiap orang ingin bahagia, setiap orang ingin kaya dan setiap orang ingin terhormat, segala cara ia tempuh termasuk mengorbankan saudaranya sendiri.

Identitas seorang muslim yang seharusnya ditonjolkan kini sudah semakin redup, bahkan hampir padam. Ketika orang Islam malu untuk menunjukkan keislamannya dan ketika orang Islam berani mengorbankan aqidahnya demi menggapai kehidupan duniawiahnya, saat itu pula awal dari kehancuran suatu bangsa. Semua orang berlomba-lomba untuk menggapai kehidupan dunia yang fana ini tanpa mengenal lelah dan tanpa mengerti hal yang dapat mengahiri usahanya itu, yaitu kematian.

Semakin manusia lupa dengan kematian, semakin jauh pula ia dari jalan Allah. Suatu ketika Rasulullah SAW diberi nasehat oleh Jibril A.s yang nasehat ini sebenarnya juga nasehat bagi kita, “Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, tapi sesungguhnya engkau pasti mati. Berbuatlah sesukamu, tapi sesungguhnya engkau akan dihisab (dibalas) atas perbuatanmu itu dan cintailah siapa saja, yang engkau kehendai, tapisesungguhnya engakau akan berpisah dengannya. Ketahuilah bahwa kemuliaan seorang muslim itu karena shalat malamnya, dan keesaran seorang muslim ialah karena zuhud terhadap sesama manusia”

Nasehat diatas sebenarnya mempunyai sebuah inti permasalahan yang sangat penting, yaitu seperti apapun bentuk seseorang, kekayaan seseorang, dan terhormatnya seseorang, pasti akan mati juga. Orang sehat akan mati, pun dengan orang sakit. Orang miskin akan mati, pun dengan orang kaya, begitu seterusnya sampai si mukmin dan si kafir pun akan mati. Allah telah berjanji dalam Al ur’an bahwa sesuatu yang hidup pasti akan mati, tanpa pandang kedudukan, kekayaan, dan tampangnya.

Kematian memang menyesakkan meski sekedar dibicarakan. Tetapi sebenarnya justru mengingat mati akan memberikan suatu benteng yang sangat kuat untuk menahan derasnya hawa nafsu. Seseorang yang ingatmati pasti akan memprhitungkan segala amal perbuatannya. Pikirannyapun jauh ke depan, pantaskah dirinya mati dengan keadan seperti itu.

Memang, sesal tidak ada yang di awal, termasuk kematian. Ketika hidup di dunia ia berbuat sesuka hati tanpa memperhitungkan balasan yang akan diterimanya setelah ia mati. Apakah malaikat munkar Nakir akan berbaik hati pada kita, apakah surga akan menerima kita sebagai penduduknya, dan apakah Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah kita lakukan? Semua itu hendaknya selalu kita tanyakan pada diri kita, sebelum semuanya terjadi dan terlambat.

Seorang mukmin sejati akan selalu mensinergiskan antara rasa cemas dan ketakutan dengan ketenangan dan pengharapan. Proses mengingat kematian merupakan proses yang sangat urgen karena akan berujung pada peningkatan amal shalih. Ingat, sesungguhnya tidak ada yang lebih indah daripada mati dalam keadaan khusnul khatimah. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan menerima segala amal perbuatan kita. Amiien.

(anasyusuf@aluswah2001_file)

Tags: , , , , , , ,

:1: :2: :3: :4: :5: :6: :7: :8: :9: :10: :11: :12: :13: :14: :15: :16: :17: :18: :19: :20: :21: :22: :23: more »

Leave a Comment