Dimulai dari Pelayanan, Baru Kemudian Seruan

”Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir. Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” (QS Al Balad 90:11-17)

Mencermati susunan ayat-ayat yang turun di awal-awal risalah seperti yang dicontohkan Surat Al Balad ini, ternyata basis da’wah dimulai dari pelayanan, baru kemudian seruan.

Ada kaidah untuk menjawab permasalahan sosial dulu, baru kemudian menyerukan iman, kesabaran dan kasih sayang. Tanpa didahului kerja-kerja sosial yang nyata itu, seruan-seruan hanya akan melahirkan tanya mengecam. Misalnya, ”Sabar.. Sabar.. Enak aja ngomong!” Atau yang paling parah, ”Apa gunanya iman? Nggak bisa dimakan!”

Untuk kemenangan da’wah, kadang-kadang Allah membuat sebuah skenario agar suatu wilayah membutuhkan kerja-kerja sosial dari jama’ah da’wah. Wallahu a’lam. Ada perbudakan oleh Fir’aun sehingga Musa gigih melakukan advokasi untuk Bani Israil.

Ada ketimpangan ekonomi, kezhaliman, dan kerusakan moral sehingga Muhammad menjadi sosok Al Amin yang sangat istimewa.

Terkadang Allah berkehendak untuk menimpakan mushibah agar terbuka peluang bagi da’wah untuk masuk dengan pelayanannya. Dan lalu seruan.

Ada mushibah tsunami di Aceh, gempa di Yogya, banjir di Jakarta, lumpur di Sidoarjo dan masih banyak lagi.

Dengan mushibah, kita belajar langsung tentang kesabaran dari mata airnya. Agar kita belajar tentang syukur di sini, di labirin nurani yang terdalam.

Bukankah Sang Nabi menyabdakan, di antara tanda cinta Rabb kita adalah penyegeraan balasan segala dosa dengan rasa sakit, kepiluan, dan mushibah-mushibah hingga pun tertusuk duri di jalan bagi orang yang beriman? Iya. Allah balas semua itu di dunia, agar sang hamba menghadap-Nya dengan kebersihan, seperti kain putih yang tercuci dari noda. Ia telah dicuci dengan air, salju, dan embun cinta-Nya.

Pemaknaan kita atas mushibah ini sebagaimana umumnya seorang muslim, cukuplah sampai di sini. Tetapi, menjadi belum cukup ketika memasuki bagian yang paling kita banggakan dari diri kita, kader da’wah dan jama’ah da’wah.

Berpikirlah kita tentang da’wah.. Maka mushiban adalah luka, yang hanya da’wah yang mampu menyembuhkannya. Maka musibah adalah teka-teki, yang hanya da’wah yang mampu mengurainya. Tega tak tega, sebutlah mushibah adalah peluang da’wah.

Peluang ini, peluang membukti.

Adakah secara internal kita telah saling mencinta hingga seperti satu tubuh, jika satu bagian merasakan sakit, maka yang lain menggigil demam. Adakah jika seorang kader merasakan pedih, yang lain pun hatinya tersembilu. Dan lebih dari itu, adakah jika seorang kerepotan, yang lain memiliki tangan yang siap kelelahan. Adakah jika saudara ditimpa mushibah, kesanggupan berbagi menjadi jamak.

Dari sirah Nabawi, kita tahu bahwa da’wah ini hidup karena ruhnya disuburkan. Ruh itu bernama ihtimaam, kepedulian. Khadijah pernah memberi jaminan kepada suaminya, Rasulullah SAW, ”Tidak, sekali-kali Allah tidak akan meninggalkanmu. Karena engkau senantiasa menyantuni yang fakir dan lemah, memberi makan mereka yang kelaparan, memberi pakaian mereka yang telanjang, menyambung silaturahmi, dan memuliakan tamu.”

Lalu, wahai kader da’wah.. Apakah beban kejama’ahan untuk menegakkan ruh kepedulian itu hanya akan dipikul oleh beberapa orang saja? Masihkah disebut jama’ah da’wah jika yang berperan besar adalah beberapa orang yang menguras diri dan energi sementara beberapa yang lain seperti kaum Musa, ”Pergi berperanglah kamu bersama Tuhanmu, kami akan duduk-duduk menunggu di sini”?

Semoga ini hanyalah pergiliran antara barisan depan dan barisan belakang sebagaimana yang diskenariokan Khalid ibn Al Walid dalam perang Mu’tah. Semoga mereka segera kembali ke posnya di atas bukit Uhud, agar tak berguguran manusia-manusia utama yang ada di garis depan. Semoga semua kita lolos dalam penyaringan Allah untuk melihat siapa kadernya yang sungguh-sungguh dan siapa yang bermain-main.

”Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al ’Ankabuut 29:3)

Ataukah kita harus meratap, jika kita adalah kader da’wah sekualitas anak buah Thalut, yang terlalu lahap minum air dan terlalu tebal berselimut fasilitas hingga kemudian berkata, ”Laa thaaqata lanal yauma bijaaluuta wa junuudih.. tiada kesanggupan bagi kami pada hari ini untuk bertempur melawan Jalut dan tentaranya”?

Masih adakah kepekaan? Sebab, apapun halnya diri, ada taujih Rabbani yang telah menggerakkan tubuh renta Abu Ayyub Al Anshari untuk bergerak meski gemetar, maju meski tertatih, dan bertarung meski terhuyung.

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS At-Taubah 9:41)

Jalan itu, memang mendaki lagi sulit..

Dicuplik dari: Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, Salim A. Fillah

Tags: , , , , , ,

2 Responses to "Dimulai dari Pelayanan, Baru Kemudian Seruan"

  • Cassius Stonerus says:
  • ratri says:

:1: :2: :3: :4: :5: :6: :7: :8: :9: :10: :11: :12: :13: :14: :15: :16: :17: :18: :19: :20: :21: :22: :23: more »

Leave a Comment