Tiga Tim Sepak Bola Jogja Meriahkan Persepakbolaan Nasional, Layakkah Dibanggakan?

Olah raga raga yang paling populer di dunia adalah sepak bola. Tidak ada olah raga yang bisa menandingi gegap gempita sepak bola. Apalagi kalau sudah Piala Dunia, Piala Eropa, dan Liga Champion. Untuk sepak bola, orang nekat berbuat apa saja, mulai dari bonek (bondo nekat) yang pergi nonton bola berhari-hari tanpa uang, sampai arak-arakan keliling kota merayakan kemenangan, meskipun kalo kalah tetep juga knalpotnya di bleyer-bleyer.

Tentunya bangga dong, DIY punya 3 tim yang masuk papan atas persepakbolaan nasional, yaitu PSS Sleman, PSIM Jogja dan Persiba Bantul. Namun, kabar itu tidak sepenuhnya membuat saya senang. Lha belum apa-apa 3 ikatan supporter sepakbola itu sudah mau “ngemis” ke Jakarta, salah satunya menemui Mendagri untuk meninjau kembali PP yang melarang penggunaan APBD untuk mensuport dana operasional sepak bola. Rencananya sehabis lebaran mereka mau bertolak ke Jakarta.

Belum lagi di pentas Nasional pengurus PSSI rapat di Cipinang karena sang ketua dijebloskan ke penjara. Oh, betapa malangnya nasib Persebakbolaan nasional kita. Rapat saja di penjara? Padahal 13 tahun lagi, yaitu 2020, Indonesia menargetkan bisa berprestasi di tingkat ASIA, alias lolos juga ke Piala Dunia. Target yang begitu muluknya, melihat realitas yang jauh panggang dari api. Ketua dipenjara saja, tidak ada yang vocal menolak penggantian. Ya, mungkin karena tidak ada orang lain yang mau rugi nanggung defisitnya anggaran PSSI selain Nurdin Halid ^_^

Langkah yang menarik adalah yang akan dilakukan PERSIB Bandung yang menawarkan sahamnya ke swasta (alias dijual) seharga Rp 50 Milyar. Hal tersebut sedang dikaji oleh PEMDA dan DPRD Bandung. Diharapkan dengan dikelola swasta anggaran APBD tidak ada yang perlu dikeluarkan, jadi PERSIB bisa mandiri dari dana yang digelontorkan dari swasta.

Anggaran untuk PSIM yang disosialisasikan anggota dewan Kota Jogja sebesar Rp 9.942.340.000,- Bayangkan dana sebesar itu setiap tahun digelontorkan oleh Pemkot, dan selalu habis! Seorang guru olahraga di sebuah SMA di Jogja mengungkapkan ketidaksetujuannya akan dianak-emaskannya salah satu cabang oleh raga tertentu, namun menganaktirikan cabang olah raga lainnya.

Dana yang begitu besar itu seharusnya tidak dialokasikan hanya untuk sepak bola saja. Dampaknya cuma sesaat kalau beralasan bahwa, “ini olahraga rakyat, dan menghibur rakyat.” Nyatanya masyarakat tidak hanya butuh hiburan. Yang muncul malah tawuran, pemukulan wasit dan kegiatan anarkhis lainnya. Sampai-sampai di Jogja, (bulan April 2007) masyarakat bertindak menghadang barisan supporter dan memukulinya saking jengkelnya karena tidak tertib di jalan dan mengganggu waktu sholat dengan knalpot blombongannya. Polisi pun menyita ratusan motor untuk meredam situasi, dan tidak mengembalikannya kecuali diganti knalpotnya di Poltabes.

Perhatian hendaknya diberikan pula kepada aspek lain. Sisi moral khususnya. Dana alokasi yang lebih besar untuk kegiatan kepemudaan dan ekonomi menengah ke bawah (UKM), dukungan yang lebih besar kepada aktivitas keagamaan (masjid), dan bentuk aktivitas riil lainnya.

Kapan bangsa ini mau bangkit, jika hanya gara-gara sepak bola saja menyebabkan ribuan orang (secara berjamaah pula) tidak melakukan sholat seperti yang selama ini terjadi? Layakkah kita bangga akan persepakbolaan nasional kita? wallahualam

Tags: , , , , ,

:1: :2: :3: :4: :5: :6: :7: :8: :9: :10: :11: :12: :13: :14: :15: :16: :17: :18: :19: :20: :21: :22: :23: more »

Leave a Comment