Sep 07
30
Yang Kita Butuhkan adalah Tokoh, bukan Sekedar Pemimpin Biasa
Tokoh mengandung nilai keteladanan. Ia tidak dibatasi oleh jabatan dan status sosial. Ia menjadi panutan dalam ekspresi kehidupan. Seringkali tokoh secara otomatis mengembasn karakter kepemimpinan. Dan dikukuhkan sebagai pemimpin. Baik formal maupun informal.
Sedangkan pemimpin tidak serta merta menjadi tokoh. Pemimpin sangat kondisional terhadap status jabatannya. Itulah mengapa lebih mudah menjadi pemimpin daripada tokoh. Mencetak sosok seperti Soekarno yang cerdas, orator yang ulung dan pandai berdiplomasi tentu tidaklah mudah. Ketegasannya pun menjadi kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Dan dunia pun mengakui hal itu. Apabila Soekarno tidak memiliki ketegasan dan tekad yang kuat, mana mungkin Indonesia berani keluar dari PBB. Terlepas dari pendapat yang pro-kontra mengenai langkah yang dilakukan Soekarno, PBB saat ini pun masih saja menjadi hegemoni negara-negara besar terhadap negara kecil.
Siapa pula yang tidak mengakui keahlian B.J. Habibie. Selain sebagai Menristek terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, Habibie pun mendapat kepercayaan sebagai president directur salah satu perusaan penerbangan di Jerman. Salah satu teorinya tentang pergeseran sayap telah dipakai dunia internasional. Dan patut disayangkan, tenaga sekaliber Habibie disia-siakan oleh pemerintah kita hanya dengan alasan politik bahwa ia produk Orde baru. Padahal, belum ada anak bangsa lain yang dapat menggantikan posisinya.





















