Jun 08
3
Koh Pin Lay (Kokoh, Pimpin, Layani)
oleh : Salim A Fillah
Cinta adalah penyakit nikmat, yang kedatangannya justru dinanti..
(Ibnu Hazm, The Neck Ring of The Dove)
Mari sejenak mengunjungi semenanjung Iberia. Di luar data bahwa kaum muslimin hanyalah 8 persen dari total penduduk kekhilafahan ’Umayyah di Andalusia, ternyata memang komunitas Yahudi terampil dalam administrasi dan birokrasi. Maka jabatan administratif yang mengelola kepentingan publik hampir seluruhnya diserahkan pada orang-orang Yahudi.
Ibnu Hazm, ulama besar madzhab Zhahiriyah itu, bersahabat erat dengan Samuel ibn Nagrilla, perdana menteri ’Umayyah yang sekaligus adalah Nagid, pemimpin tertinggi komunitas Yahudi. Tapi di akhir kisah, ketika Samuel Nagid berperan meruntuhkan khilafah dan mengubah tata pemerintahan Andalusia menjadi thaifah, atau polis state, yang masing-masing memiliki Sultan, beliau dirundung duka. Dan jadilah Ibnu Hazm seorang pejuang pengembalian khilafah yang kesepian, dari penjara ke penjara. Syair terkenal yang digubahnya untuk budak yang paling dicintainya, mungkin juga adalah refleksi kenangannya tentang khilafah yang hilang di Cordoba. Setidaknya itulah yang diyakini Maria Rosa Menocal dalam buku sejarah lirisnya, Ornament of The World.
Tahun 1064 tercatat suram. Ibnu Hazm, pejuang khilafah yang kesepian itu wafat, sekira 50 tahun setelah penjarahan mengerikan yang menghancurkan Madinatuz Zahra. Istana-kota ini adalah pusat kekuasaan berkilauan di atas bukit Cordoba yang seolah menjadi mahkota bersusun-susun bagi kota termewah di seluruh dunia itu. Tapi, itulah wajah kita di Andalusia, pemimpin dan pelayan ummat yang tidak kokoh.
Lalu mari ke tanah air kita. Di keping-keping kesultanan Mataram di awal abad XIX, ada catatan menarik tentang gerbang tol. Atau orang Jawa menyebutnya bandar. Di luar berbagai faktor yang kita pertimbangkan menjadi penyebab perang Diponegoro 1825-1830, mungkin bandar adalah gambaran paling kasat dari rakyat banyak atas apa yang kita sebut kezhaliman. Dan ternyata memang akar masalah pembauran dengan etnis Tionghoa juga ada di sana; pemungutan pajak jalan di gerbang-gerbang tol itu diserahkan pada etnis Tionghoa. Sekali lagi, itulah kita di sana; Sayidin Panatagama yang tidak kokoh. Maka etnis Tionghoa menjadi sasaran kebencian dalam perang yang paling menyibukkan pemerintah kolonial itu. Hingga kini.
Koh Pin Lay, tentu bukanlah nama salah seorang pemungut pajak Tionghoa itu. Meski kata ”Koh” sering kita pakai untuk memanggil mereka. Saya hanya mencoba menyingkat visi kita; dakwah yang koKOH, memimPIN, dan meLAYani. Kokoh, pimpin, layani! Nah, masalah kekokohan tentu solusi kuantitatifnya dengan merekrut kader. Dan solusi kualitatifnya dengan membina kader. Tapi sudahkah pula kita bermental pemimpin sekaligus pelayan? Karena prinsip amanah kita adalah sayyidul ummah, khaadimuhum, pemimpin suatu ummat adalah pelayan mereka. Apa saja karakter kepemimpinan dakwah yang perlu kita miliki?
Silakan berkenyang-kenyang dengan aneka ragam teori kepemimpinan. Saya hanya ingin menambahkan catatan tentang kepemimpinan dakwah. Katakanlah itu kepemimpinan yang memandu dakwah, bernilai dakwah, dan menginspirasi dakwah.
Menggenapkan An Nafyu dengan Al Itsbaat
Tentang kalimat Laa ilaaha illallaah, ’ulama kita membaginya menjadi An Nafyu (penafian) dan Al Itsbaat (penetapan). Nah, sebagai ’Abdullah, kita menafikan segala yang disembah selain Allah, lalu menetapkan hanya Allah saja yang punya haq untuk itu. Tetapi tauhid kita tak berhenti sampai di situ. Sebagai Khalifah, kita tak boleh berhenti sekedar menafikan sistem barat, peradaban barat, budaya barat, gaya hidup barat, perlakuan barat, dan seterusnya. Kita harus melengkapkan tauhid itu, dengan memberi alternatif sistem, peradaban, budaya, gaya hidup, perlakuan, dan seterusnya. Di situlah sifat dasar pemimpin; bukan cuma mengutuk gelap, tapi menyalakan lilin.
Ini kisah tentang Ibu Theresa. Ia lahir di Skopje, Albania, tanah yang juga telah menghadiahi kaum muslimin dengan muhaddits agung abad ini, Muhammad Nashiruddin Al Albani. Jika Rasulullah pun mengakui keadilan Anusyirwan, Kisra Persia yang bertahta seabad sebelum kelahiran beliau, maka bagi saya, Agnes Maria Bojaxhiu –nama asli sang ’Beata’- tetaplah misionaris paling mengagumkan. India menjadi saksi kesuksesan ’da’wah’-nya.
Cobalah sempatkan menonton film Mother Theresa, In The Name of God’s Poor. Saya menyeksamai secuplik adegan menarik di film ini. Ketika para Pandit dan masyarakat fanatik Hindu berdemonstrasi menuntut pengusiran misionaris Ibu Theresa, kepala polisi pun turun tangan. Ia menginspeksi kerja kemanusiaan suster itu di rumah sewaannya. Ia melihat penderita kusta, para fakir, orang cacat, jompo, semua mendapatkan perawatan dan pelayanan. Ia melihat sendiri bagaimana Ibu Theresa mengangkat seorang berpenyakit menular ke pangkuannya, memandikannya, menyuapinya, dan menyelimutinya. Ia lalu keluar menemui para demonstran yang masih berteriak-teriak.
”Tenang semua!!! Demi dewa, aku pasti akan mengusir wanita itu!”, ia berkata penuh wibawa. ”Aku akan mengusir wanita itu jika isteri-isteri dan anak perempuan kalian telah menggantikan dan menangani semua yang mereka kerjakan di panti ini! Salam!”
Nah, begitupun kita. Dalam hal paling sederhana, dakwah bukanlah yang mengutuk kristenisasi bermodal mie instan, apalagi menyalahkan mereka yang membutuhkan mie instan. Kepemimpinan dakwah menjawab lebih dari sekedar, ”Mengapa iman bisa ditukar mie instan?”, tapi, ”Bagaimana agar hal itu tidak terjadi?” dan bahkan, ”Bagaimana mencukupkan gizi bangsa, hingga orang tak lagi makan mie instan?”
Menggenapkan Skill Manajerial dengan Tawadhu’
Seorang pemimpin, simpul Mohammad Fauzil ’Adhim dalam Dakwah yang Mengubah, Kepemimpinan yang Memberdayakan, melihat yang tak terlihat, mendengar yang tak terdengar. Pemimpin menemukan ’jalan’. Pemimpin menggabungkan titik titik potensi, mengetahui yang terpenting untuk mereka. Pemimpin menyambungkan segenap kekuatan. Pemimpin menyadari kekuatan dan menghargai kekuatan. Pemimpin melihat yang lain, pemimpin mampu melihat celah kesempatan. Wah, siapa mau jadi pemimpin? Oh, sungguh setiap kita adalah pemimpin, kata sang Nabi. Dan tak sampai di situ. Kita juga bertanggungjawab.
Maka skill manjerial seorang pemimpin memang seharus dimiliki tiap orang. Apa saja itu? Masing-masing punya teori. Rasulullah datang membawa motivasi, tawaran surga dan neraka. Lalu mendidik para sahabat dalam tarbiyah yang intens. Lalu menginstruksi mereka untuk hijrah dan berjihad. Beliau melakukan syuraa’ dalam menghadapi persoalan-persoalan berat. Dan yang terpenting, beliau adalah inspirasi yang tak pernah habis. Motivating, educating, instructing, discussing, dan inspiring. Selebihnya? Tawadhu’.
Bayangkan bahwa Anda adalah seorang ibu tua berpendidikan rendah yang tinggal di pelosok hingga Anda sama sekali belum pernah mendengar tentang PKS. Suatu hari, pelayanan kesehatan partai dakwah ini hadir di dekat Anda. Maka Anda pun bertanya pada petugas yang sedang mengukur tekanan darah Anda, “Mbak, ini yang menyelenggarakan pengobatan gratis dari mana to?”
”Ini dari PKS Bu..”, jawab si Mbak sambil tetap sibuk dengan tensimeternya.
”Lha PKS itu apa to?”
”PKS itu ya yang jelas beda dengan PKU!!”
Dinilai dari sisi manapun, jawaban ini bukan jawaban seorang da’i, bukan seorang pelayan ummat, apalagi pemimpin. Bahkan bukan jawaban orang yang bisa menjawab pertanyaan. Gajah itu apa to? Oh, gajah itu bukan kudanil. Menyedihkan, tapi mungkin pernah terjadi. Dengan jawaban ini, sang ibu tak menjadi tahu tentang PKS, dan jadi takut bertanya lagi karena merasa terbentak. Terlebih lagi unsur dengki dalam jawaban itu mengundang murka Allah dan murka manusia. Jawaban yang tidak cerdas dan berefek menjauhkan manusia dari dakwah ini, tentu berawal dari akhlaq yang error.
”Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Luqman 18-19)
Bahkan, Allah menegur ekspresi ringan semacam mimik wajah, cara berjalan, dan gaya bicara, jika itu semua menunjukkan keangkuhan dan menjauhkan manusia dari dakwah. Rasulullah mulia sebagai da’i, bukan karena mengatakan ”Abu Jahl nggak bisa kan merawat anak yatim kayak kamu?!” Tapi Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury dalam Ar Rahiiqul Makhtuum mencatat, ”Beliau bicara dengan ekspresi yang penuh. Tidak menoleh kecuali dengan seluruh badan. Penuh perhatian untuk mendengarkan. Memberi penekanan dengan memukulkan ibu jari kanan pada telapak tangan kiri. Berjalan dengan cepat seolah bumi dilandaikan.”
Kalau manusia lemah dan tertindas lalu ia tawadhu’, mungkin memang begitu meski seharusnya ia melawan penuh ’izzah. Tapi ketika dia berada di puncak sebuah piramida kepemimpinan, tawadhu’ jadi tantangan. Seperti kata Solon, pemimpin demokrasi Athena, ”Kepemimpinan yang didukung penuh rakyat seperti ini memang manis. Tapi aku takut, tak ada jalan turun.”
Suatu saat di masa kepemimpinannya, ’Umar menemui kaum muslimin di masjid dengan wajah yang tidak seperti biasa. Ada gurat aneh, ada air muka yang memasam, ada sorot mata yang gundah. ”Apa yang kau gelisahkan wahai Amirul Mu’minin, sedang kaum muslimin hidup dalam ketenteraman di bawah keadilanmu?”, tanya seseorang. Beliau menjawab, ”Aku tidak mengkawatirkan kaum muslimin. Yang aku khawatirkan justru, ketika tak ada lagi yang mengingatkanku di kala aku khilaf karena rasa sungkan dan rasa segan!”
”Demi Allah!”, kata seorang sahabat sambil menghunus pedangnya, ”Jika engkau bengkok, kami yang akan meluruskanmu dengan pedang ini!”
”Segala puji bagi Allah”, tukas ’Umar, ”Yang mengaruniakan pada ’Umar orang yang akan meluruskannya dengan pedang!”
♥♥♥
Koh Pin Lay. Mungkin mengingatkan anda akan Zu Qou Ghu yang ditulis KH Rahmat Abdullah. Maka di sinipun saya ingin mengenang Syaikhut Tarbiyah dengan mata yang basah, rindu akan keteduhan wajah itu. Saya mengenangnya dalam sajak ketawadhu’an, dalam taujih pada para pemimpin dakwah. Pada semua da’i. Pada kita.
Jadilah kau bintang
Berkilau dipandang orang
Di atas riak air, dan sang bintang jauh tinggi





















