Jun 08
7
Tersumbat, Bukan Salah Pintu
Mesir, tahun 296 H. Negeri gurun dengan sungai Nilnya yang elok memasuki babakan baru. Secara politik maupun sosial. Itu mungkin sebuah siklus yang nyaris biasa-biasa saja. Karena begitu banyak pemerintahan silih berganti yang menguasai Mesir. Yang baru mengalahkan yang lama. Begitu seterusnya. Seperti tahun itu, Mesir berada di bawah pemerintahan Ubaidiyah. Dinisbatkan kepada pendirinya, Ubaidiyah Al Mahdi, tokoh aliran Batiniyah, yang baru saja berhasil meruntuhan Aghalibah, pemerintahan sebelumnya.
Kekuasaan Ubaidiyah terus berlanjut. Silih berganti penguasanya. Di saat Al-Muiz Lidinillah berkuasa, Kairo dibangun secara besar-besaran. Tetapi sungai Nil tetap tak tergantikan sebagai sumber utama penghidupan. Bahkan airnya memberi penghidupan bagi negara-negara yang dilaluinya. Untuk minum, pertanian, keperluan sehari-hari, untuk transportasi, serta jalur keluar masuknya barang. Nil adalah juga hamparan pemandangan yang indah. Terlebih siang hari, ketika permukaannya berkilau diterpa sinar matahari.
Tetapi 161 tahun kemudian, segalanya berubah. Ya, seratus tahun lebih adalah waktu yang cukup untuk membuat orang lupa, bahwa kejayaan itu tidak kekal. Mesir memasuki hari-hari yang sulit. Bahkan mamasuki masa kritis yang sangat tragis. Sungai Nil berubah kering. Para ahli sejarah bahkan menyebut kekeringan itu belum pernah terjadi sama sekali sebelumnya. Tak pelak krisis pun terjadi di mana-mana. Kemakmuran ekonomi secara perlahan berubah menjadi kesulitan. Harga-harga membumbung tinggi. Bencana kekeringan itu bahkan terjadi selama tujuh tahun penuh, antara tahun 457 H sampai 464 H.
Bencana keringnya sungai Nil masih ditambah lagi dengan bobroknya pemerintahan waktu itu. Ini membuat krisis Mesir semakin berlipat-lipat. Pangkal utamanya karena penguasa utama dinasti Ubaidiyah sangat lemah dalam memimpin Mesir. Justru yang banyak menyetir negeri itu adalah para menterinya yang rakus. Para penulis sejarah tentang dinasti Ubaidiyah seperti Ibnu Katsir, misalnya menegaskan betapa masing-masing menteri di kala itu sibuk memperjuangkan kepentingannya sendiri, walaupun negaralah yang harus membayarnya dengan mahal.
Kekuasaan Ubaidiyah juga tidak mampu mengatur rumah tangganya sendiri. Ketergantungannya kepada bangsa asing, yaitu bangsa Yahudi dan Nasrani begitu tinggi. Ini mengantarkan Ubaidiyah yang telah menguasai Mesir dan Afrika (waktu itu Mesir belum dianggap Afrika), berjalan menuju hari-hari kehancurannya. Keadaan tak kunjung membaik. Justru sebaliknya, krisis itu semakin runyam, hingga akhirnya kekuasaan dinasti Ubaidiyah runtuh utnuk selamanya pada bulan Muharam 567 H setelah 270 tahun lamanya berkuasa.
Seperti itu pula mestinya kita. Memotret sebuah krisis yang kita alami hari ini tidak terlalu sulit. Banyak potret masa lalu yang layak menjadi maket, untuk kita lihat, bagamana mereka bisa hancur dan mengapa kita pun bisa hancur.
Krisis di negeri ini terjadi tidak terjadi karena rejeki telah salah pintu. Ini soal keyakinan yang sangat mendasar. Menganggap rezeki telah salah pintu adalah sebuah kesalahan. Allah Maha Adil, keadilanNya meliputi segala hal, termasuk dalam soal membagi kekayaan.
Alangkah kayanya dunia, laut, daratan dan isi buminya. Segala sumber kekayaan alam itu, lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup seluruh manusia. Allah SWT dengan jelas telah mengatakan, “Dan Dialah (Allah) yang telah menciptakan untuk kamu sekalian seluruh apa yang ada di bumi.”
Permasalahan rezeki adalah permasalahan ideologis, sebelum menjadi permasalahan ekonomi. Keyakinan ideologis itu harus menjadi dasar pemikiran, pijakan prinsip, bagi apa saja teori dan pandangan kita tentang masalah-masalah ekonomi, seperti soal kecukupan itu, soal kepemilikan asli dan kekayaan bumi, soal modal dan lain sebagainya. Selain itu, memahami paradigma rezeki di dunia ini, dalam konteks sebuah negara, adalah juga memahami bagaimana memanfaatkan kekayaan dunia untuk sebuah proyek pemakmuran yang adil dan merata.
Maka dalam Islam paradigma rezeki tidak sekadar bagaimana seseorang bisa makan dan bisa minum. Dalam konteks kemanusiaan, mungkin itu benar. Tetapi lebih dari itu, soal rezeki adalah soal tanggung jawab. Tanggung jawab dari para penguasa yang dari mulut dan tangannya tersangkut lalu lintas rezeki untuk rakyatnya. Karena dari mulut dan tangan-tangan mereka keluar undang-undang dan aturan. Meski tidak semua aturan itu lahir atas permintaan rakyat.
Tetapi, seperti dalam potret Mesir di jaman Ubaidiyah, kebobrokan penguasa di banyak tempat justru memberi andil yang sangat besar bagi terjadinya krisis. Sebab para penguasa punya otoritas itu, bukannya membuat kebijakan yang baik dan memihak rakyat. Tetapi justru sebaliknya, lebih suka menyenangkan pihak asing. Itu membuat rakyat jadi terjajah di negeri sendiri.
Tragedi Mesir juga meninggalkan catatan lain, betapa kegagalan penguasa menata para menterinya menyebabkan negara mengalami kerugian yang sangat besar. Mereka tidak bisa duduk bersama untuk menjadi para pemimpin kolektif yang sama-sama memikirkan nasib rakyatnya. Tetapi diantara mereka sendiri sibuk memperbanyak pundi-pundi kekayaannya.
Sebuah kejayaan, di jaman apapun, pada dasarnya punya prinsip dan pilar-pilar yang sama. Kejayaan hanya bisa didapat dengan jiwa yang luhur, semangat hidup yang sehat, mentalitas yang bersih, dan kemauan untuk meniti jalan yang lurus. Kejayaan dalam makna yang sesungguhnya, tidak pernah memberi ruang sedikitpun bagai para perampok, penjahat, dan penjual harga diri, bahkan tidak juga untuk orang-orang yang tak bisa menahan air liurnya dari hak-hak orang lain. Ini berlaku untuk siapa saja. Dalam tataran pribadi maupun masyarakat. Terlebih utnuk ukuran sebuah bangsa. Begitu pun sebuah kehancuran, ia tak memerlukan sebab-sebab yang rumit. Ada aksioma yang sama, di setiap zaman.
Karenanya, hari-hari ini, ketika krisis di negeri ini tak kunjung usai, bahkan semakin menjadi-jadi, seharusnya setiap kita, siapapun kita, terlebih bila kita penguasa, hendaknya membuka mata dan telinga lebar-lebar. Lalu melihat dna mendengar, apakah jatah rezeki orang lain justru tersangkut pada diri kita. Karena segala ketimpangan ini, bukan karena rezeki yang salah pintu. Tetapi karena banyaknya sumbatan dan sangkutan. Berlindunglah setiap kita kepada Allah, dari menjadi penyumbat jatah rezeki orang lain. <
Tarbawi 53/4





















