Mar 10
10
Kehidupan kita di dunia ini tak lepas dari berbagai masalah dan perselisihan. Masing-masing orang mempunyai beragam cara sendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Penyelesaian masalah itulah yang menjadi tolok ukur sebijak apakah kita dalam menentukan warna warni kehidupan kita menjadi seindah pelangi. Mari ikuti sepercik perjalanan orang-orang besar yang menyelesaikan perselisihan dalam bingkai ketulusan cinta.
Dahulu, Abu Dzar radhiyallahu’anhu pernah menghina Bilal bin Rabbah dengan menyebut orang tuanya. Bilal mengadu kepada Rasulullah dan Abu Dzar menyesal sejadi-jadinya atas perkataannya kepada Bilal. Ia lalu menempelkan pipinya ke tanah sambil berucap kepada Bilal, “Demi Allah, aku tidak akan angkat pipiku dari tanah sampai engkau injak pipi ini dengan kakimu.” Akhirnya kedua sahabat itu berpelukan dan saling memaafkan.
Mereka, orang-orang besar itu, bukan tak pernah berselisih dan bukan tak pernah tersulut emosinya. Perselisihan antara mereka juga terjadi, bahkan kemarahan antara mereka juga telah tersulut. Tapi lihatlah bagaimana mereka menyelesaikan masalah antara mereka. Lihatlah bagaimana kaum Muhajirin dan Anshor, ketika kedua kelompok sahabat Rasalullah shallallahu’alaihis wassalam hampir saja berbaku hantam dan saling bunuh karena diingatkan masa lalu mereka yang berperang. Masing-masing kelompok telah menghunus pedang mereka dan siap untuk berperang.
Dalam situasi kritis itu Rasulullah shallallahu’alaihis wassalam melerai mereka dengan mengatakan, “Wahai kaum muslimin apakah karena seruan jahiliyah ini (kalian hendak berperang) padahal aku ada ditengah-tengah kalian. Setelah Allah memberi hidayah Islam kepada kalian. Dan dengan Islam itu Allah muliakan kalian dan Allah putuskan urusan kalian pada masa jahiliyah. Dan dengan Islam itu Allah selamatkan kalian dari kekufuran. Dan dengan Islam itu, Allah pertautkan hati kalian.” Maka kaum Anshor itu segera menyadari bahwa perpecahan mereka itu adalah dari syaithon dan tipuan orang kafir sehingga mereka menangis dan berpelukan satu sama lain. Lalu mereka berpaling kepada Rasulullah shallallahu’alaihis wassalam dengan senantiasa siap mendengar dan taat…(Sirah Ibnu Hisyam 1/555)
Setelah Rasulullah shallallahu’alaihis wassalam wafat pun, diantara para sahabat pun pernah terjadi perselisihan. saat itu, Muawiyah memiliki sepetak kebun di Madinah dan sejumlah karyawannya. Ibnu Zubair memiliki kebun yang letaknya disamping kebun milik Mu’awiyah. Mu’awiyah ketika itu adalah seorang kalifah yang menguasai lebih dari 20 wilayah. Sedangkan Ibnu Zubair hanyalah salah seorang rakyatnya. Keduanya juga mempunyai persoalan di masa lalu. Tukang kebun milik Mu’awiyah datang dan masuk ke kebun milik Ibnu Zubair, lalu Ibnu Zubair menuliskan surat kepada Mu’awyiah dengan anda marah. Surat itu bertuliskan,
“Bismillahirrahmanirrahiim. Dari Abdullah bin Zubair, putra penolong Rasul(Zubai bin Marwan) dan putra Dzatun Nuthaqain (Asma binti Abu Bakar yang mempunyai gelar itu), kepada Mu’awiyah binti Hindun, anak yang memakai hati hati paman rasulullah. Ketahuilah tukang kebunmu masuk ke kebunku. Demi Allah kalau engkau tidak segera melarang mereka, aku akan mempunyai urusan denganmu!”
Muawiyah membaca surat dari Ibnu Zubair dengan lapang dada dan menerimanya dnegan tenang. Ia lalu memanggil anaknya yang bernama Yazid yang kebetulan karakternya emosional. Muawiyah menyodorkan surat itu dan bertanya, “Apakah kita perlu menjawabnya?” Yazid bin Mu’awiyah menjawab, “Menurutku ayah ahrus mengirimkan pasukan dengan kekuatan yang besar yang barisan terdepannya ada di Madinah dan barisan terakhirnya ada di Damaskus. Mereka harus datang kembali dengan membawa kepala Ibnu Zubair.”
Muawiyah menjawab, “Tidak. Ada yang lebih baik dari itu.” Ia lalu menuliskan surat balasan kepada Ibnu Zubair dengan mengatakan,
” Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muawiyah bin Abi Sufyan kepada Abdullah bin Zubair putra penolong Rasul dan putra Dzatun Nuthaqain. Assalamu’alaykum wa rahmatullahi wabarakatuh. Jika ada bagian dari dunia milikku dan milkmu, lalu kemudian engkau memintanya, niscaya akan aku berikan itu semuanya untukmu. Jika suratku ini sampai kepadamu, ambillah kebunku itu seluruhnya menjadi milikmu. Termasuk tukang kebunku juga menjadi milikmu. Wassalam.”
Surat itu akhirnya sampai ke Abdullah bin Zubair. Membaca surat itu Ibnu Zubair menitikkan air mata dan pergi ke Mu’awiyah di Damaskus. Ia memeluk Mu’awiyah dan berkata, “Semoga Allah menjaga akalmu. Dan Allah telah memilihmu diantara orang-orang Qurais untk menduduki tempat ini yakni jabatan khalifah.”
Kemudian pada perang jamal, Aisyah, Thalhah dan Zubair beserta sejumlah sahabar radiallahu anhum keluar untuk berperang dengan menghunus pedang. Sementara dipihak lawan, Ali radiallhu anhu dan para sahabat dari ahli Badar juga berangkat untuk berperang. Seseorang berkata kepada Amir Asy Sya’bi, “Allahu akbar. Para sahabat saling berperang dengan pedan dan masing-masing tidak ada yang menghindari?!” Amir Asy Sya’bi mengatakan, ” Para penghuni surag juga bertemu. Tapi mereka masing-masing merasa malu dengan yang lain.”
Ketika Thalhah gugur di medan perang Jamal, dalam posisi menentang Ali radhiallhu anhu, justru Ali turun dari kudanya dan menangggalkan pedangnya. Ia berjalan kaki menuju Thalhah. Melihatnya telah gugur bersimbah darah. Ali tahu, Thalhah adalah salah seorang dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam. Ali radiallhu anhu membersihkan tanah dari janggut Thalhah sambil mengatakan, “Aku sangat gusar melihatmu seperti ini wahai Abu Muhammad. Tapi aku akan meminta kepada Allah subhanahu wata’ala agar menjadikan antara diriku dan dirimu sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an, “Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr 47)
Dan kemudian lihatlah bagaimana kisah Imam Al-Ghazali, tentang Hasan Al Bashri yang pernah di datangi seseorang dengan mengatakan, “Wahai Abu Sa’id, seseorang melakukan ghibah atasmu.” Hasan Al Bashri menjawab, “Kemarilah.” Ketika orang itu datang, Hasan Al Bashri memberinya beberapa kurma lalu mengatakan, “Pergilah ke orang itu dan katakanlah kepadanya, “Engkau telah memberikan kebaikanmu untukku. Dan karenanya aku memberimu kurma.” Orang itu lalu memberikan kurma kepada orang yang menggibahi Hasan Al Bashri.
Saudaraku, Semoga kita bisa belajar dari orang-orang besar itu.
dikutip dari Tarbawi edisi 199






















