Inovasi, Kapan Beranjak dari Wacana?

Mantan Wapres M Jusuf Kalla termasuk yang kritis terhadap lembaga penelitian dan penelitiannya. Tatkala membuka LIPI Expo 2008 (4/8/2008), ia mengkritik LIPI dan lembaga penelitian lain yang belum menghasilkan riset penting bagi kemajuan bangsa. Sebelum mantan Wapres juga sudah ada sindiran, kalau makalah hasil seminar di Indonesia ditumpuk, mungkin tingginya bisa mencapai Bulan saking banyaknya. Namun, yang mengecewakan, setelah begitu banyak seminar diselenggarakan, Indonesia tak kunjung maju.

Kali ini, topik seminar yang dapat diangkat dengan kekhawatiran sama adalah yang berkisar tentang inovasi. Senin (29/3) di Jakarta, berlangsung Lokakarya Terpadu Sistem Inovasi yang diselenggarakan bersama antara Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) dan Bundesministerium fur Bildung und Forschung (Kementerian Pendidikan dan Riset Negara Jerman).

Selain seminar dan lokakarya, sebenarnya gema inovasi juga sudah terdengar melalui Program Kementerian Ristek melalui Business Innovation Center (BIC) yang tahun 2009 menjaring 101 inovasi. Ada pula tokoh penganjur, seperti Prof Zuhal, yang dalam Lokakarya pada Senin lalu meluncurkan buku Knowledge & Innovation: Platform Kekuatan Daya Saing. Jangan lupakan pula tekad Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang pada September 2009 mengumpulkan sejumlah pemikir inovasi kemudian mencanangkan rencana pembentukan Komite Inovasi Nasional dalam Silaturahim Presiden dan Ilmuwan Indonesia di Puspiptek Serpong, 20 Januari 2010.

Sementara itu tempus fugit (waktu terbang) melaju kencang. Setelah sejumlah tekad, seminar, dan program inovasi dicanangkan dan digelar, inovasi Indonesia belum lepas landas (tetapi masih tinggal di landasan).

Jerman dan Kita

Kementerian Ristek melalui lokakarya terpadu tampak mencoba mencari jalan untuk menggerakkan roda inovasi. Dengan menggandeng Jerman—yang sudah menjalin kerja sama ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dengan RI secara intens selama tiga dasawarsa terakhir—diharapkan kita bisa menyerap tidak saja ide, tetapi juga cara-cara praktis tentang bagaimana inovasi dimunculkan.

Duta Besar Jerman Norbert Baas dalam sambutannya mengatakan keyakinannya bahwa Indonesia sekarang ini sedang bergerak ke arah inovasi iptek. Tidak bisa lain karena inovasi merupakan motor penggerak ekonomi. Diyakinkan, melalui inovasi iptek yang telah membawa Jerman menjadi kekuatan ekonomi keempat di dunia (belum lama ini masih nomor tiga sebelum dilampaui China) dapat dicapai pertumbuhan dan berikutnya kemakmuran.

Namun, agar bisa mencapai keunggulan, hingga produk yang dibuat bisa menembus dan menguasai pasar, dibutuhkan pula kewirausahaan. Di sisi lain, rendahnya anggaran riset (sekitar 0,05 persen PDB) dan jumlah wirausahawan (menurut pengusaha Ciputra hanya 0,08 persen jumlah penduduk) banyak dilihat sebagai kendala nyata bagi lahirnya produk inovasi yang komersial dan juga usahawan yang memperdagangkannya.

Sering pula kita mengangkat isu bahwa negara maju enggan berbagi atau mengalihkan teknologi. Menjawab ini, Dubes Jerman menegaskan bahwa sains pada dasarnya bersifat internasional dan bebas. Apalagi pada era internet, informasi apa pun bisa dicari dan baca. Jadi, kalau mau, orang bisa mendapatkan—kalau bukan semua, hampir semua—informasi yang ia inginkan.

Akan tetapi, seperti dikemukakan Direktur VDI/VDE Innovation + Technik GmbH Gerd Meier zu Kocker yang ikut berbicara di lokakarya, ada sejumlah faktor kunci sukses bagi sistem inovasi nasional, seperti adanya komitmen pembuat kebijakan nasional terhadap investasi inovasi jangka panjang dan adanya fokus strategi inovasi nasional yang berfokus pada keunggulan kompetitif satu bangsa.

Jika Menristek Suharna Surapranata menegaskan kembali pentingnya sinergi antara akademisi, bisnis, dan pemerintah (ABG), ini pun masih sinkron dengan salah satu kunci sukses yang dikemukakan Direktur VDI/VDE di atas. Namun, siapa pertama-tama yang disebut dengan pemerintah di sini?

Prof Zuhal gamblang menyebutkan bahwa orkestra inovasi—agar berhasil—harus dipimpin oleh presiden.

Kepemimpinan, menurut Zuhal, merupakan ekosistem inovasi yang tak tergantikan bersama kebijakan, pendanaan, pendidikan, dan kultur. Dapat disimpulkan, tanpa kepemimpinan yang mengambil langkah aksi, berbagai kendala inovasi nasional tak akan tertanggulangi. Kondisi yang menurut Zuhal masih sampai pada tahap pemetaan dan konsep boleh jadi akan tetap seperti itu sampai kapan pun.

Deputi Menristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek Idwan Suhardi menjelang lokakarya menguraikan, program seperti lokakarya memang menambah lagi wacana tentang inovasi. Namun, selain wacana, program ini juga bagian dari upaya membangun massa kritis inovasi, antara lain dicerminkan dengan memasukkan dimensi inovasi daerah.

Pengalaman memperlihatkan bahwa banyak hal yang mudah diucapkan, tetapi sulit dilaksanakan. Konsep Triple Helix atau ABG tak terkecuali.

Apa pun argumennya, inovasi Indonesia harus segera lepas landas. Apabila dua-tiga tahun lagi kita tidak menghasilkan contoh inovasi yang mampu berkontribusi terhadap perekonomian, dalam ukuran sedang atau kecil, kita harus berani mengakui bahwa kita tidak serius atau bahkan gagal dalam upaya inovasi.

oleh : Ninok Leksono | sumber : Kompas

Tags: , , , , , ,

1 Response to "Inovasi, Kapan Beranjak dari Wacana?"

  • kamarul arief says:

:1: :2: :3: :4: :5: :6: :7: :8: :9: :10: :11: :12: :13: :14: :15: :16: :17: :18: :19: :20: :21: :22: :23: more »

Leave a Comment