Apr 10
6
Talenta Terbaik Lari ke Sektor Keuangan
Ketika SMA, kita sudah diharuskan menentukan profesi apa yang akan kita geluti. Walau memang banyak pula yang sudah menentukan pilihan itu jauh sebelumnya. Ketika ditanya, apa cita-citamu sewaktu kecil? Banyak yang menjawab jadi pilot, tentara atau dokter. Sedikit yang bisa menyebutkan jadi dosen, guru, professor, pengusaha atau bahkan menjadi presiden.
Sewaktu TK, aku pun ingin menjadi pilot. Kagum melihat ABRI saat itu begitu gagah. Apalagi melihat serunya perang Teluk di tahun 1991. Kecanggihan teknologi pesawat, kapal perang dan senjata membuat anak-anak seusiaku pada saat itu sangat antusias. Beranjak ke SD, cita-cita berubah ingin menjadi dokter. Melihat dokter sangat ramah dan baik hati, apalagi ketika merawatku sewaktu sakit atau ketika harus mencabut gigiku yang gigis, keropos kebanyakan permen dan coklat. Ketika SMP, aku pengin menjadi pemain sepak bola, gara-gara sering baca serial komik offside dan shot dan kelasku penggila bola semua, kelasku juara satu sekolah juga J. Nah, sewaktu SMA ketika ditanya ingin masuk jurusan mana, jawabannya beda lagi. Lebih idealis!
Realistis Idealis
Ketika SMA itulah, cita-cita yang diinginkan biasanya lebih banyak terwujud. Hal itu bisa perwujudan dari cita-cita kecilnya yang sejak lama terpendam atau menemukan hal baru sesuai potensinya.
Kenyataan sekarang, banyak potensi muda anak bangsa yang semangat dan tertarik masuk ke dunia sektor keuangan. Tidak hanya di Indonesia saja. Di luar negeri khususnya Amerika hal yang sama juga terjadi. Gaji eksekutif di sektor keuangan menjadi dambaan tersendiri. Talenta-talenta terbaik bangsa banyak tertarik di sektor ini.
Sejumlah studi menyebutkan, sejak lama telah muncul keluhan bahwa sektor keuangan menyedot talenta terbaik. Hal ini membuat talenta terbaik berpaling dari sektor lain yang memberi gaji lebih rendah. ”Pada perekonomian yang didominasi jasa keuangan, sayangnya telah menyebabkan para pekerja terbaik lebih tertarik memasuki jasa keuangan karena tergiur kompensasi besar,” demikian AFP mengutip pernyataan Stiglitz ekonom AS, peraih Nobel Ekonomi 2001 di hadapan Kongres AS pada Januari 2010 lalu. ”Biaya dari misalokasi talenta yang tak proporsional ini terhadap masyarakat kita sungguh tak terhitung,” kata Stiglitz. (Kompas)
Kalau direnungkan lebih mendalam, semua sektor itu punya keterkaitan kuat. Memang sembilan dari sepuluh pintu rejeki ada di sektor perdagangan. Nah, untuk mempunyai barang dagangan harus ada barang riil yang diproduksi, dan itu melibatkan banyak sektor.
Amerika sekarang mengalami sebuah ancaman keruntuhan karena pijakan ekonominya yang rapuh. Sistem bonus pada sektor keuangan misalnya didasarkan pada penjualan produk keuangan, bukan pada kinerja perusahaan. Misalnya, semakin banyak surat utang terjual semakin besar potensi bonus. Hal ini menyebabkan para eksekutif keuangan tidak peduli dengan keamanan investasi yang ditawarkan pada para pemilik dana. Pembenahan dengan memangkas gaji dan bonus sektor keuangan pasca krisis sedang dilakukan. [zh10]





















