Geliat Pengembangan Stroberi Indonesia

20100504 Purbalingga 110 300x225 Geliat Pengembangan Stroberi Indonesia

stroberi petik pertama

Stroberi Indonesia sedang menggeliat, setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir ini sudah dikembangkan lebih luas. Tanaman stroberi merupakan buah daerah sub tropika, oleh karena itu stroberi yang dibudidayakan di Indonesia merupakan buah introduksi. Kesan dan image stroberi sebagai buah kelas tinggi, eksklusif dan sulit didapat secara perlahan mulai luntur. Sebelum ini kita hanya mendapatkan stroberi dalam berbagai olahannya. Misalnya rasa stroberi di wafer, ice cream, susu, roti, sirup, selai dan lain sebagainya. Sekarang, buah sroberi segar mudah didapat di tempat wisata, di toko, bahkan ditawarkan di terminal, angkutan, kereta api atau pinggir jalan. Mudah didapat!

Beberapa sentra stroberi di Indonesia adalah Desa Sawangan di Magelang, Desa Serang di Purbalingga Jawa Tengah, di Kalisoro Tawangmangu Jawa Tengah, PTPN XII Desa Jampit dan Desa Kampungbaru di Bondowoso Jawa Timur, Desa Pancasari dan Candikuning di Bedugul Bali, Agrokusuma dan Desa Pandan di Batu Jawa Timur, Desa Tongkoh di Brastagi Karo Sumatera Utara, dan di Lembang, Cianjur, Cipanas, Sukabumi serta Ciwidey di Jawa Barat.

Mayoritas pengembangan stroberi yang sudah cukup eksis memang di pulau Jawa. Padahal potensi daerah lain di luar Jawa, terutama di dataran tinggi juga cukup besar. Sekiranya perlu sosialisasi lebih lanjut dan adanya pihak-pihak yang menjadi pelopor untuk membidik pasar potensial terutama di daerah perkotaan sehingga petani punya lebih banyak alternatif pendapatan. Harga Stroberi 1 kg mencapai Rp 25-50 ribu.
Dari sekian daerah yang sudah disebut di atas, Purbalingga mempunyai potensi besar untuk berkembang. Selain lahan yang ada mencapai 70 Ha, jajaran Dinas Pertanian setempat sangat mendukung. Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan, Lily Purwati dengan semangat mengatakan bahwa ke depan, daerah Purbalingga akan disulap menjadi kawasan agrowisata yang lebih komprehensif untuk stroberi.

Profil Singkat Stroberi di Purbalingga

Stoberi mulai ditanam di Purbalingga mulai tahun 2003. Pada awalnya dipelopori oleh Marhadi yang ditugaskan sebagai pengelola bibit stroberi yang ada di bawah pengawasan PT ZA yang bergerak di bidang sayur mayur. Namun Marhadi mengembangkan stroberi secara masal di luar pengetahuan perusahaan sehingga membuatnya diantara dua pilihan sulit yaitu terus bekerja dengan aturan ketat perusahaan yang ada atau keluar dan mengembangkan sendiri dengan keterbatasannya. Akhirnya ia memilih keluar dan melanjutkan usahanya itu. Usaha yang dilakukan Marhadi ternyata disambut masyarakat sekitar dengan sangat antusias yang akhirnya mampu mengembangkan wilayah sekitar menjadi kawasan wisata yang sedang dimatangkan menjadi agrowisata stroberi melengkapi objek wisata yang sudah ada disana (owabong, museum insect, Akuarium Raksasa Purbasari Pancuran Mas atau yang lebih di kenal Akuarium Purbayasa, museum Jendral Soedirman, dll). Boleh dibilang Marhadi sebagai “Bapak Stroberinya Purbalingga”. Stroberi yang dikembangkan ada dua jenis yaitu sweet charlie dan osogrande yang presentasenya masing-masing 50% di luas lahan kurang lebih 70 Ha.

Daerah penanaman stroberi di Purbalingga mempunyai ketinggian 1100-1500 mdpl, dengan pH tanah 6,4 dan curah hujan 2000-3000 mm/tahun. Model tanam yang dilakukan di hamparan dengan menggunakan mulsa plastik dengan jarak tanam 40×40. Sistem tanamnya tumpang sari dengan sayuran, sawi dan bawang daun. Wilayah Desa Serang berada pada ketinggian 900-1000 mdpl. Stroberi yang banyak dikembangkan adalah stroberi buah yang bentuknya relatif lebih besar bukan stroberi juz yang buahnya kecil-kecil.

Tantangan Pengembangan Stroberi Indonesia

Menurut Emi Budiyati, peneliti stroberi di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Badan Litbang Pertanian, permasalahan utama yang timbul dan perlu pemecahan adalah masalah ketersediaan bibit berkualitas. Mengupayakan perbaikan genetika benih atau bibit domestik tidak bisa ditawar lagi. Selama ini bibit yang ada adalah pengembangan dari tahun 2003 yang bisa dipastikan kualitasnya semakin menurun, dengan buah yang semakin jarang dan mengecil. Ketika hulu sudah baik, maka penanganan pasca panen stroberi perlu ditingkatkan. Baru beberapa daerah saja (seperti di Kalisoro Tawangmangu) yang mampu mengolah panen stroberi dengan optimal yaitu dengan membuat selai, sirup dan berbagai produk olahan lain. Sehingga semua kualitas stroberi dari grade A sampai C bisa dimanfaatkan.

Selama ini perbanyakan dari sulur / stolon bisa dilakukan 3-5 kali, setelah itu memang kualitasnya semakin menurun. Sedangkan perbanyakan dengan biji perlu waktu yang lama dan kebanyakan petani tidak sabar dalam hal ini. Bibit yang ada dari perusahaan penyedia biasanya hibrid. Sebelumnya (tahun 2003-2007-an) panen bisa dilakukan selama 8 bulan berturut-turut, namun sekarang hanya bisa dilakukan selama 4 bulan.

Beberapa waktu yang lalu Kementrian Pertanian melalui Badan Karantina Surabaya Jawa Timur memusnahkan 500.000 benih stroberi varietas camarosa, chandler, dan gaviota yang didatangkan dari Amerika Serikat karena diduga membawa bakteri Xylella fastidiosa. Ini tentu pukulan telak bagi petani yang kesulitan mendapatkan bibit dari dalam negeri, sedangkan untuk impor pun tidak mudah.

Ketidaktersediaan bibit stroberi yang berkualitas membuat petani stroberi semakin kesulitan dan terpuruk. Inilah tantangan besar dari Balitjestro yang baru dua tahun ini mendapat mandat dari Kementrian Pertanian untuk pengembangan stroberi.

f9599abe35f6e1ed3f8d0a259e61f9b3 Geliat Pengembangan Stroberi Indonesia
______________
gambar lainnya :

Tags: ,

5 Responses to "Geliat Pengembangan Stroberi Indonesia"

  • HAFIDHAH KHUSNIYATI, SP says:
  • Rian siregar says:
  • zainuri says:
  • thomas says:
  • zainuri says:

:1: :2: :3: :4: :5: :6: :7: :8: :9: :10: :11: :12: :13: :14: :15: :16: :17: :18: :19: :20: :21: :22: :23: more »

Leave a Comment