• Pidato Presiden pada Konferensi Dewan Ketahanan Pangan 2010

    world hunger food ketahanan pangan 300x210 Pidato Presiden pada Konferensi Dewan Ketahanan Pangan 2010 Konferensi Dewan Ketahanan Pangan 2010 dilaksanakan pada tanggal 24 – 25 Mei 2010 bertempat di JCC., dihadiri oleh para Menteri KIB II, Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Gubernur dari seluruh Indonesia selaku Ketua Dewan Ketahanan Pangan Propinsi, para Bupati/Wali Kota selaku Ketua Dewan Ketahanan Pangan tingkat Kabupaten/Kota, Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Badan-badan Internasional, pimpinan perguruan Tinggi, lembaga akademik, dunia usaha serta asosiasi profesi pangan seluruh Indonesia, dan Kepala Badan/ Dinas/ Kantor yang menangani Ketahanan Pangan baik tingkat Propinsi maupun Kabupaten/Kota.  Konferensi tersebut dibuka oleh Presiden RI yang didampingi oleh Ibu Ani Yudhoyono dan Wakil Presiden RI beserta Ibu Herawati Boediono. Secara lengkap berikut disampaikan Pidato Presiden RI pada acara pembukaan Konferensi Dewan Ketahanan Pangan Tahun 2010.

    Bismillahirrahmanirrahim,

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

    Salam sejahtera untuk kita semua,

    Yang saya hormati,

    Wakil Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Herawati Boediono;

    Saudara Menteri Pertanian Republik Indonesia dan Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu;

    Saudara Wakil Gubernur DKI Jakarta;

    Yang saya cintai para Gubernur, para Bupati dan para Walikota;

    Yang saya hormati para pimpinan Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Badan-badan Internasional;

    Yang saya hormati para pimpinan perguruan Tinggi, lembaga akademik, dunia usaha serta asosiasi profesi pangan seluruh Indonesia;

    Yang saya hormati pimpinan dan anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, para pimpinan Lembaga Pemerintahan non Kementerian; pimpinan Badan-badan Usaha Milik Negara;

    Hadirin sekalian yang saya muliakan;

    Marilah pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, kita panjatkan puji dan syukur sekali lagi ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT karena kepada kita masih diberi kesempatan untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada Bangsa dan Negara, utamanya dalam rangka terus meningkatkan ketahanan pangan kita. Baik secara nasional maupun di daerah-daerah seluruh Indonesia.

    Saya ingin memulai sambutan saya ini dengan menyampaikan mengapa kita masih terus berbicara tentang ketahanan pangan. Padahal kita semua sudah melakukan semua upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan kita, meningkatkan produksi pangan kita, membangun swasembada yang berkelanjutan pada komoditas-komoditas pangan tertentu. Yah, memang kita harus terus peduli dan melakukan upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan ini dan ini bukan hanya dialami oleh Indonesia, bangsa-bangsa yang lain juga demikian.

    Beberapa alasan yang ingin saya sampaikan, mengapa? Kita, utamanya para pemimpin di depan, para Gubernur, para Bupati dan para Walikota harus terus berusaha dengan gigih, dengan kepemimpinan saudara untuk meningkatkan ketahanan pangan ini. Pertama-tama, pangan adalah salah satu bagian dari basic human need, tidak ada substitusinya. Kalau tidak makan tidak bisa survive, tidak bisa melangsungkan hidupnya. Yang kedua, diam-diam disadari atau tidak terjadi peningkatan kebutuhan growing demand, terhadap pangan ini. Mengapa? Ya, penduduk dunia terus bertambah, 5 tahun yang lalu saya masih berbicara 6,6 miliar, sekarang sudah mencapai 6,8 miliar manusia. Penduduk kita, kita duga 230 juta, kita tunggu hasil sensus nanti berapa tambahannya. Dan semua memerlukan makanan. Bukan hanya itu, di seluruh dunia terdapat kenaikan dari the middle class, middle class ini akan mengkonsumsi lebih banyak pangan. Dengan demikian growing demand bukan hanya karena penduduk bertambah, tapi juga ada peningkatan kebutuhan bagi lapisan masyarakat, dan tentu di seluruh dunia.

    Berikutnya lagi yang ketiga, terdapatnya kerusakan lingkungan degradasi, antara lain karena climate change. Tentu mengganggu produksi dan produktifitas pangan sedunia. Termasuk beberapa tempat di tanah air kita. Yang keempat saudara mengikuti tentu, terjadi kompetisi antara sumber-sumber pangan dengan sumber-sumber energi, contohnya jagung. Jagung ini bisa dikonsumsi manusia, dikonsumsi ternak. Tetapi sekarang juga ada gerakan untuk membuat biodiesel yang berasal dari jagung. Kalau tidak ada pertimbangan yang baik pada tingkat global, tentu akan mengganggu supply dari jagung ini bagi konsumen manusia dan ternak. Yang kelima, saudara-saudara, kalau kita melihat peta Indonesia, melihat peta dunia, peta Asia Tenggara, itu selalu ada kaitan satu sama lain, yang saya sebut dengan interconectedness global logistic and trade. Kalau tiba-tiba misalnya Vietnam, Thailand yang men-supply beras selama ini di seluruh dunia. Kalau produksinya tentu Indonesia lebih banyak. Tetapi karena penduduk kita banyak akhirnya terkonsumsi di dalam negeri. Nah, banyak negara yang lebih kecil produksi berasnya, tapi karena penduduknya kecil bisa diekspor lebih banyak. Manakala negara-negara produsen beras itu ada masalah, apakah karena iklim atau karena persoalan lain sehingga ada krisis, maka dengan cepat akan dirasakan oleh negara-negara lain di dunia. Itulah hakekat dari international trade, perdagangan internasional.

    Kemudian yang terakhir, yang keenam mengapa Saudara cape-cape datang dari seluruh wilayah Indonesia hari ini, berkumpul di Jakarta, kita sendiri Indonesia harus meningkatkan ketahanan pangan kita, swasembada berkelanjutan, sambil menyadari masih ada kerentanan di bidang pangan. Masih ada kerawanan di bidang pangan di berbagai daerah. Itulah 6 alasan Saudara-saudara mengapa kita tetap relevan dan masih harus berbicara secara serius menyangkut peningkatan ketahanan pangan ini.

    Dengan pengantar itu, maka saya menggarisbawahi pentingnya konferensi kita dua hari ini. Dalam konferensi ini saya berharap kita semua dapat mengetahui situasi pangan terkini secara nasional maupun daerah demi daerah. Pada tingkat saya, tingkat menteri, harus menguasai situasi pangan nasional kita. Demikian juga Gubernur, Bupati dan Walikota, saudara harus menguasai situasi pangan di tempat saudara. Saudara, dan kita semua harus juga mengetahui pertumbuhan demand, berapa banyak yang diperlukan beras, padi, jagung, kedelai, daging sapi dan komoditas pangan yang lain misalnya. Dengan mengetahui tren kecenderungan kenaikan demand itu, maka bisa membikin rencana yang baik untuk meningkatkan produksi pangan kita.

    Dalam konferensi ini, besok hari ke dua, saya mendapat laporan tadi dari Menteri Pertanian, akan ada rapat yang lebih teknis, itu bisa disusun sasaran atau program aksi ketahanan pangan kita 2010-2015 yang konkret, yang bisa dicapai berangkat dari kebutuhan real. Kemudian, tentunya diperlukan kebijakan, strategi dan program aksi kedepan. Saya kira nanti Menteri Pertanian, Menteri Dalam Negeri dan Saudara semua bisa menyusun bersama-sama perihal kebijakan strategi dan program aksi ini.

    Saudara-saudara,

    Saya pernah bercerita tentu di forum yang lain. Beberapa tahun yang lalu saya berkunjung ke Tiongkok, ke Beijing. Kemudian, saat kembali saya membeli buku. Salah satu judulnya adalah Can China Feed Him Self terjemahannya “Dapatkah Republik Rakyat Tiongkok Mencukupi Kebutuhan Pangannya Sendiri”. Ya mungkin swasembadalah begitu atau ketahanan pangan. Nah, di situ banyak artikel-artikel bagus karena buku itu disumbang oleh para akedemisi, para peneliti, goverment officer, dunia usaha, ahli teknologi dan sebagainya. Antara lain yang saya baca, misalnya how deep China feed itself in the best? Selama ini atau di waktu yang lalu, bagaimana sih Tiongkok bisa mencukupi kebutuhan pangan bagi 1,3 miliar manusia. Tidak sedikit, disitu juga dijelaskan how will China feed itself in the future? Kalau Tiongkok dianggap berhasil di dalam mencukupi kebutuhan pangannya sendiri di waktu yang lalu, mengingat faktor-faktor tadi, termasuk pertumbuhan penduduknya. Bagaimana pula kira-kira di masa depan juga bisa mencukupi kebutuhan pangannya sendiri, tentu banyak pandangan-pandangan di situ.

    Saya hanya ingin mengatakan tema seperti itu, topik seperti itu juga relevan bagi kita. Bagi Indonesia, bagi propinsi, bagi kabupaten dan bagi kota. Oleh karena itu Dewan Ketahanan Pangan juga wajib untuk mendiskusikan masalah ini sehingga nanti apakah kebijakan, apakah strategi, apakah program aksi benar-benar dapat disusun secara tepat.

    Hadirin yang saya hormati,

    Saya ingin langsung saja menyampaikan sejumlah isu, isu utama di bidang ketahanan pangan. Baik yang langsung terkait dengan ketahanan pangan, maupun yang terkait. Sekaligus solusi serta kebijakan seperti apa yang mesti kita tempuh. Silakan dijabarkan nanti dalam konferensi ini dan tentu dalam upaya ke depan. Isu pertama adalah apa yang kita rasakan selama ini, terutama selama hampir 6 tahun saya memimpin pemerintahan dan negara ini. Saya mengamati ada satu hal yang mesti kita perbaiki bersama-sama, yaitu yang saya sebut dengan sinergi dan terintegrasinya sistem. Ini mendasar, kita harus berangkat dari situ.

    Nah, bicara tentang sinergi dan terintegrasinya sistem itu pertama-tama saya ingin mengangkat isu yang disebut views food energy and water sustainability atau food, energy and water security. Bagaimana antara pangan, energi dan air itu dikelola secara terpadu sehingga membawa manfaat yang besar bagi bangsa kita dan tidak menimbulkan masalah, baik untuk masa kini maupun masa depan.

    Saya ingin benar-benar bagaimana kita mengembangkan sumber energi dan sumber pangan yang serasi, berorientasi kepada kebutuhan dalam negeri. Dengan demikian tidak ada masalah di kemudian hari. Sekali lagi, pangan, energi dan air. Jangan main-main dengan air. Dunia sudah mengalami masalah dengan air. Indonesia yang boleh dikata, seperempat daratan, tiga perempat wilayah kita lautan. We are fishing, water problem di beberapa tempat. Jangan anggap enteng. Oleh karena itu saya satukan antara food, energy and water. Yang juga perlu keterpaduan saudara-saudara adalah masalah yang disebut dengan food supply. Bagaimana kita memproduksi, menawarkan, mencukupi, mendistribusikan, begitu, komoditas pangan kita. Bagi komoditas dalam negeri dan sebagian karena adanya perdagangan ekspor dan impor bagi kepentingan perdagangan luar negeri. Demikian juga perlu sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan dunia usaha.

    Saya ingin mengasih contoh tentang minyak goreng. Ingat tahun 2007-2008 ada krisis berkaitan dengan itu. Ada dinamika setelah itu, dimana harga minyak goreng dipasar global naik dengan tajam. Nah, tentu kalau hukum ekonomi, hukum dagang jualah sebanyak-banyaknya minyak goreng dari Indonesia ke luar negeri karena keuntungannya besar. Apa yang terjadi? di dalam negeri mengalami persoalan, harga menjadi naik. Nah, disini saudara-saudara tidak boleh kita melaksanakan manajemen, apa istilahnya selamatkan diri masing-masing (SDM) atau manajemen masing-masing, begitu.

    Tetapi harus diingat bahwa secara nasional kita punya kepentingan.

    Dulu terus terang kita duduk bersama. Pemerintah dengan dunia usaha, dengan kadin. Boleh saudara-saudara mendapatkan keuntungan yang lebih besar karena situasi minyak di dunia seperti itu. Tapi pikirkan rakyat sendiri, masyarakat sendiri agar juga bisa membeli minyak goreng dengan harga yang terjangkau. Ini juga satu sebutlah integrated system yang mesti kita bangun. Masih seputar sinergi dan terintegrasinya sistem, yaitu antara sektor pertanian, sektor pekerjaan umum. Utamanya infrastruktur dan kemudian sektor transportasi atau perhubungan. Contoh kita ingin membangun food estate, misalnya, di wilayahnya pak Bas (Barnabas Suebu, Gubernur Papua) di sana, di Merauke. Sudah lama ini dipikirkan, bisa tebu, bisa apalagi di sana pak Bas? Pak Bas ada tidak di sini? Iya, apa saja itu padi, sawit, segala macam. Itu ide yang bagus. Tapi persoalannya adalah bagaimana infrastruktur ada di situ, bagaimana transportasi in and out dari food estate itu.

    Pertanian itu sendiri, perdagangannya, sehingga perlu integrated sistem. Begitu kita bangun food estate, itu hampir pasti berhasil karena infrastrukturnya ada, transportasinya ada, perdagangannya certain. Kemudian produknya juga memiliki produktivitas dan memang diperlukan ditingkat pasar.

    Saya ingin seperti itu dan saya kira diseluruh Indonesia, Sumatera, Jawa Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua masih bisa dikembangkan food estate. Food estate dengan catatan ada integrated system di dalam sektor-sektor yang berkaitan. Itu isu pertama. Silakan ke depan, di sini para menteri juga ada, Menko Perekonomian juga ada yang mengkoordinasikan. Tolong dibangun kawasan-kawasan terpadu seperti itu dengan mengsinergikan semuanya.

    Isu yang kedua, ini PR bagi Dewan, PR bagi besok karena ada pertemuan teknis dan pak Suswono akan menjelaskan juga karena beliau ada sesi untuk menyampaikan tentang peningkatan sejumlah akomoditas pertanian menuju swasembada dan swasembada berkelanjutan. Beliau akan menjelaskan, saya hanya ingin menyampaikan secara singkat dan sekaligus tolong dituangkan nanti dalam program aksi Dewan Ketahanan Pangan ini. Kita tahu bahwa yang menjadi sasaran untuk menuju swasembada dan swasembada berkelanjutan ada 5. padi atau beras, kemudian jagung, kedelai, gula dan daging sapi. Saya kira telur, daging ayam, sayur, kentang, itu sudah cukup. Tetapi lima andalan ini menurut saya perlu menjadikan perhatian. Padi, kita punya rencana 2010 tahun ini produksi kita kurang lebih 67 juta ton. Kita ingin 2014 mencapai 76 juta ton dengan perkiraan pertumbuhan atau growth 3,22 persen. Pastikan itu dapat dicapai. Jangan hanya kualitatif, jangan hanya yang sifatnya fisik, tapi betul-betul bagaimana mencapai produksi 76 juta ton pada tahun 2014. Pusat atau Nasional seperti apa, Daerah seperti apa. Jagung, jagung 2010 produksinya sekitar 20 juta ton. 2014 kita ingin naik 9 juta menjadi 29 juta ton, growht-nya adalah 10,02 persen. Pastikan kita mencapai 29 juta ton jagung pada tahun 2014.

    Kedelai, kedelai ini yang betul-betul harus memerlukan kebersamaan kita, semua harus bersatu-padu. Karena kita mengkonsumsi kedelai cukup banyak, tahu, tempe menjadi keseharian kita dan juga produk yang lain. 2010 kita ingin mencapai 1,3 juta ton. 2014 sasaran kita dua kalinya 2,7 juta ton kenaikannya tinggi, spektakuler growth-nya, harapan kita 20 persen. Ini harus betul-betul ada ekstra upaya. Saya tidak tahu sekarang berapa produktivitasnya 2,5 ton per hektar. Sudah ada?Berapa pak? 1,5 juta ton masih?

    Saya pernah meninjau ke Puwodadi, dulu 2,5 ton mungkin percontohannya, demonstration flog ya. Ya silakanlah, yang penting kalau di Brasil, saya pernah ke Brasil meninjau kedelai itu di sana sudah sampai 2,5 ton per hektar. Daging sapi, gula 2010 sasaran kita 3 juta ton. Tahun 2014 menjadi 5,7 juta, hampir 2 kali lipat dengan pertumbuhan 17,63 persen. Mari kita capai. Yang terakhir, daging sapi, tahun 2010 ini 0,41 juta ton, 2014 sasaran kita 0,55 juta ton pertumbuhannya 7,3 persen, utamakan daging sapi dalam negeri.

    Pak De Karwo (Sukarwo, Gubernur Jatim) teriak-teriak karena sapi harganya turun di Jawa Timur dan konon ada yang siluman masuk ke Indonesia. Kontrol yang baik, dorong supaya peternakan lokal tumbuh dengan baik. Saya pernah ke Jawa Timur melihat kambing peranakan etawa. Jadi daging itu ya, daging sapi, daging kambing atau domba, daging ayam, ikan, yang penting yang serba ikan dan daging harus kita perbanyak di negeri ini. Lima komoditas unggulan. Instruksi saya, arahan saya, bikin masterplan-nya, bikin roadmap-nya dan capai. Capai sasaran itu, penuhi sasaran itu. Saudara- saudara, itu isu yang kedua.

    Isu yang ketiga berkaitan dengan ketahanan pangan adalah sistem cadangan dan distribusi, saya masih membaca di surat kabar, mendengar, menerima laporan, musim-musim tertentu ada softage, ada kekurangan pangan di tempat-tempat tertentu. Oleh karena itu stok dan cadangan nasional maupun daerah harus cukup, harus memadai dan terkelola dengan baik. Kabulog ada disini? Pastikan sistem cadangan nasional kita bisa memenuhi ini. Transportasi dan distribusi, saya mendengar ada pulau terpencil terlambat karena gelombang laut tinggi, cuaca tidak bersahabat, akhirnya ada masalah. Antisipasi seperti ini dan para Gubernur, Bupati, Walikota sudah saatnya sesuai dengan pengalaman terjadinya krisis karena cuaca dipersiapkanlah stok-stok ke depan sesuai dengan kemampuan yang ada. Kemudian juga pulau terluar dan daerah pedalaman, saya pernah ke Yahukimo, saya pernah ke beberapa tempat di Nusa Tenggara yang memerlukan atensi khusus agar tidak ada softage dari komoditas pangan. Jadi isu yang ketiga adalah sistem cadangan dan distribusi.

    Saudara-saudara, isu ke empat. Isu keempat ini yang disebut dengan rantai supply dan logistik nasional yang efisien. Masing-masing propinsi, kabupaten, kota punya unggulan biasanya. Oleh karena itu pendekatan kita daerah mana lebih baik memproduksi apa? Dengan perdagangan yang baik, maka semua mendapatkan keuntungan. Dan ingat kalau bicara perdagangan saudara-saudara, bukan hanya perdagangan domestik tapi juga perdagangan internasional. Kemudian transportasi yang efiesien. Menhub kebetulan tidak ada di sini, tapi catatan saya mari kita carikan jalan keluarnya. Ini sudah agak lama kita menderita karena ongkos angkutan yang mahal. Di Indonesia, menurut catatan, itu biaya operasi truk per kilometernya tercatat 0,34 dolar Amerika Serikat, berapa rupiah di dalam kurs sekarang itu? Berarti Rp 3000.

    Bandingkan dengan ongkos pada truk satu hari di negara-negara Asia yang hanya 0,22 kilo meter. Nah, kalau ongkosnya, begini, ini contohnya truk, belum kapal, belum yang lain-lain. Harga akhir yang dibeli rakyat musti mahal. Belum bicara Maluku, Papua, Papua Barat, yang jauh-jauh. Coba para Menteri ini PR, rumuskan. Pak Hatta di sini, coba cara yang cespleng agar betul-betul ya..pak ya. Artinya bukan teori, mana yang betul-betul bisa turun lah itu namanya ongkos angkutan yang mahal begitu.

    Isu yang kelima, peta yang bapak terima tadi, ada disitu, peta kerentanan pangan, ketahanan pangan juga ada. Mungkin ada debet atau tidak. Tapi juga kerawanan pangan. Masalah yang kita hadapi adalah ada kekurangan produksi di beberapa tempat, ada kasus-kasus kelaparan diberbagai tempat yang sifatnya situasional kalau kelaparan ini. Tapi ada riwayat kekurangan gizi yang nyaris permanen dikantorng-kantong tertentu. Ini masalah, tidak boleh kita biarkan. Belum kita harus mencapai MDG’s Milenium Development Goals. Dan ingat goals number one, dari MDG’s itu adalah mengurangi kemiskinan absolut dan kelaparan yang ekstrim. Accept poverty and extreme hunger. Extreme hunger, jadi kita harus betul-betul mengurangi kelaparan yang ekstrem. Oleh karena itu, peta yang sudah dibagikan pelajari betul. Mari kita carikan jalan keluarnya. Saya ingin menyampaikan ini, supaya blak blakan saja. Begini, saya kalau membaca koran, atau di tv di-close up, ada kejadian kurang makan kelaparan, ada yang masuk rumah sakit, disebuah kecamatan. Lantas judulnya pusat kurang perhatian, Menteri terkait tidak kunjung datang, begitu. Saya suka peduli, paling tidak tolong dicek, saya telepon menteri tolong dicek, betul nggak itu? Pasti beliau ke pak Gubrenur, pak Gubernur pasti ngecek ke pak Bupati.

    Mari kita bikin aturan main. Dalam hal akuntabilitas, mari kita bawa one step up kalau ada kecamatan mengalami masalah kelaparan situasional. Kalau di situ memang jangka menengah, jangka panjang. Lho kok tiba-tiba ada kelaparan di sebuah kecamatan. Yang paling bertanggungjawab, yang harus bisa menjelaskan ke pers, ke rakyat, dan kemudian mencari jalan keluarnya adalah pak Bupati. Kalau ada Kabupaten atau 2 Kabupaten, maka pak Gubernur, kalau lebih dari itu beberapa propinsi saya, para Menteri. Nah, dengan demikian, aturan ini menjadi pas meskipun tetap saya akan peduli, saya sudah sering menelepon kepada Gubernur yang bersangkutan, Menteri yang bersangkutan. Tapi mari kita bikin aturan main seperti itu, sehingga who is responsible for what? Jelas, siapa bertanggung jawab tentang apa? Dengan demikian sistem akan berjalan dengan baik. Itu isu ke lima.

    Isu ke enam, ini tidak langsung terkait dengan ketahanan pangan Saudara-saudara. Tetapi para Gubernur, Bupati, Walikota pasti menganggap ini hal yang penting. Yaitu masalah stabilitas harga, termasuk keterjangkauan harga, bisa sembako, bisa komoditas yang lain. Harga itu, Saudara-saudara, mari kita memiliki persepsi yang sama. Harga pangan itu yang penting, pertama, penghasilan petani harus baik, harus layak. Setelah itu harga itu bisa dijangkau oleh konsumen, oleh masyarakat yang lain, pembeli. Dua-dua itu, tidak boleh ada yang dikorbankan, supaya harga semurah-murahnya sedemikian rupa, petani tidak dapat apa-apa. Tidak adil.

    Tapi sebaliknya, jangan sampai tidak ada kontrol harga, kontrol itu bisa pasar, bisa aturan pemerintah. Lantas, rakyat nggak bisa membeli. Mari kita lihat dua-duanya. Oleh karena itu Saudara-saudara, diperlukan efisiensi dalam logistik nasional kita. Distribusinya harus baik. Saya ulangi transportasinya tidak boleh terlalu mahal, pasar kalau aneh-aneh tolong Bapak turun ke pasar. Turun ke pasar jangan hanya pada saat pilkada ataupun pemilu atau pilpres. Turun ke pasar justru baca dikoran, terima sms, pak SBY, pak Gubernur, apa-apan ini pak, beras kok naik segini, gula segini? Segera turun. Meskipun sudah periode ke dua pun turunlah gitu. Supaya segera bisa diantisipasi. Itu kalau domestik. Kalau global kita punya pengalaman 2007, 2008, krisis dunia, kita mengantisipasi, Kadin, pemerintah pusat Gubernur waktu itu, perbankan ketemu, alhamdulilah bisa kita kurangi dampaknya. Ini contoh kita mengantisipasi gejolak stabilitas harga.

    Saudara-saudara,

    Isu yang ketujuh, penganekaragaman konsumsi pangan. Ini penting, saya dukung tekad Menteri Pertanian, bersama-sama kita tentunya, untuk mengurangi konsumsi padi perkapita. Bayangkan, 230 juta, mana Pak Rusman (Kepala BPS) ya? kira-kira berapa hasil sensusnya? Tambah, ok, kalau semula kita duga 230 juta tambahnya menjadi 235 juta. Itu masih fair-lah, maksimal 240 juta. Tapi kalau lebih dari itu, ini lampu kuning. Ada apa ini? harus segera kita melakukan langkah-langkah yang tepat.

    Kalau kita kurangi konsumsi padi, diisi yang lain akan bagus. Sambil mengembangkan sumber daya lokal. Kalau sagu, singkong, apa sukun, jagung, apalagi ubi yang begitu. Itu kalau jumlahnya makin besar karena penganekaragaman, ekonomi bergerak pasti, lapangan pekerjaan juga tumbuh, impor berkurang. Kita masih import terigu dalam jumlah yang banyak. Nah, di sini, tolong Dewan, ini urusan Dewan ini, saya masih melihat ada miss match, tidak klop, tidak terkoordinasi, sinkronisasinya kurang antara penelitian dan pengembangan dengan industri. Yang riset, riset terus, saya melihat pameran itu mungkin sudah ratusan kali di seluruh Indonesia. Ini beras, jagung, tebu, semua riset bagus-bagus. Tetapi saya tidak yakin apakah riset itu dialirkan ke produksi, sehingga diproduksi, dipasarkan. Sehingga masyarakat menikmati hasil riset itu, sehingga diversifikasi pangan terjadi, ekonomi lokal bergerak, sumberdaya lokal bisa didayagunakan dengan baik. Itu yang menjadi persoalan. Oleh karena itu, tolong, mumpung forumnya bagus, Dewan bikinlah upaya untuk terjadi sinergi antara lembaga penelitian dan pendidikan, pengembangan dengan industri dalam arti luas.

    Kemudian, masyarakat melalui pasar. Tolong, kalau melakukan penelitian, misalkan mie instan, separuh terigu, separuhnya campuran misalkan singkong sama sukun, atau singkong sama sagu. Itu betul-betul bukan hasil riset yang bagus. Dicoba dimasyarakat disukai tidak? kalau nggak disukai ganti lagi kira-kira apa yang pas gitu. Jadi jangan sampai dunianya masing-masing, asyik dengan penelitiannya, asyik dengan produksinya. Masyarakat makan yang dulu-dulu juga, nggak terlalu pengaruh na. Ini kan tidak klop sebetulnya.

    Saya diberitahu, mie instan itu 20 tahun sampai sekarang semua senang. Saya kira diantara kita ini mesti kalau sedang jenuh sana-sini, ambil mie instan, cepat saji. Kalau kita terbang jauh ke Eropa perjalanan 48 jam, makanan di pesawat sudah bosan, udah pop mie sajalah. Poin saya adalah sampai kita suka, masyarakat suka, itu proses. Maksud saya kalau mengembangkan nanti diversifikasi pangan, bapak, ibu, pastikan yang dikembangkan itu, disamping memecahkan masalah mengurangi impor, mengurangi padi, tapi juga memang disukai oleh masyarakat. Dengan demikian akan jalan.

    Isu yang ke delapan, Dewan saya kasih tugas untuk menyusun sistem pemantauan, monitoring sistem secara nasional. Monitoring sistem yang efektif dan kredibel. Apa yang dimonitor, apa yang dipantau, adalah situasi pangan misalkan bulan Mei 2010, monitoring situasi se Indonesia bulan ini. Yang dimonitor apa yang menjadi program peningkatan ini, peningkatan itu, nambah irigasi, nambah jalan ini dan sebagainya. Jalan atau tidak jalan kita pantau.

    Monitoring system juga bisa semacam early warning, ini kok nampaknya akan gagal ini. Banjirnya dua minggu, ini bisa puso ini, bisa menurun produksi di Sulawesi Selatan misalnya. Kalau dengan monitoring system yang bagus akan bisa dikalkulasi berapa berpengaruh pada supply nasional. Solusinya apa?, dan yang dipantau juga respon kita semua, respon pak Gubernur, respon pak Bupati, respon pak Walikota dan semuanya. Juga bisa dipantau pasar, pasar itu tidak boleh berjalan sendiri tanpa pemantauan, tanpa intervensi yang tepat. Kalau pasar itu absolut, itu kapitalisme yang absolut, yang fundamental. Itu sering tidak cocok. Oleh karena itu ada mekanisme pasar, market mecanism, tetapi juga ada peran pemerintah yang tepat memastikan jangan sampai pasar seenaknya saja sehingga tiba-tiba terjadi krisis pasar global seperti kemarin. Regulasinya kurang misalnya, terjadilah krisis keuangan 2008. jadi hakekatnya dua-duanya diperlukan.

    Saya ulangi sekali lagi, saya sering mengatakan mekanisme pasar diperlukan agar efisien. Kalau ekonomi nggak efisien, nggak bisa berlanjut, tapi peran pemerintah yang tepat supaya harga tidak seenaknya melonjak-lonjak, supaya juga ada keadilan, supaya ada perlindungan pada petani, nelayan, buruh itu perlu ada regulasi, ada kebijakan atau regulasi. Dua-duanya diperlukan. Inipun kita bisa dengan satu sistem melakukan memantauan, memastikan bahwa semua berlangsung dengan baik.

    Isu yang ke sembilan atau yang terakhir, perhatikan dengan baik, saudara-saudara, begini suka ada yang berdebat, sebenarnya negara kita ini kelebihan pangan, kelebihan komoditas tertentu atau tidak?, atau sebenarnya kurang tidak komoditas ini di Indonesia? Sehingga persoalannya adalah persoalan apakah over supply, terlalu banyak yang dipasarkan atau terlalu sedikit yang dipasarkan. Saudara tahu hukum ekonomi kalau permintaannya tinggi yang ditawarkan sedikit harga naik apa turun?, naik pasti. Tapi kalau dibanjiri barang, dimana-mana ada barang, permintaannya tidak naik, harga naik apa turun?, harga turun. Itulah yang menentukan, yang membangun harga atau price. Jadi price itu kalau mekanisme pasar ya supply dengan demand. Penawaran dengan permintaan, produksi dengan konsumsi, sekitar-sekitar itu. Nah, ini memang policy issue, academic issue. Tetapi Dewan Ketahanan pangan harus bisa menjamah sampai di situ. Disamping itu tadi yang program aksi, yang masterplan, yang langsung dilaksanakan di lapangan.

    Saudara-saudara, ini sering kita alami para Gubernur, para Bupati, Walikota pastilah kalau ketemu petani pastilah disambati, di-curhati-lah begitu. Pak gimana nih, pas kami panen harganya jatuh, pas kami tidak panen harga naik, kami juga membeli malah ikut-ikutan mahal. Benar, kalau hukum pasar ya benar, memang kalau panen datang, berasnya membanjiri dimana-mana harga cenderung turun. Sebaliknya kalau belum masa panen naik, petanipun kesulitan untuk membeli beras itu. Oleh karena itu saudara-saudara, menghadapi itu semua, mari kita lakukan pemantauan yang baik dan manakala diperlukan peran pemerintah, apakah dalam bentuk regulasi ataupun kebijakan. Itu kita keluarkan. Dengan demikian manakala terjadi kekurangan supply, policy=nya “x”. Langkah-langkahnya “z.”

    Dengan demikian harga kembali stabil. Demikian juga kalau kebanjiran barang-barang, kita lakukan juga kebijakan “a”, regulasi “b” dengan demikian kembali stabil.

    Kita saudara-saudara, ingat ini para pemimpin, ini para penentu kebijakan, menghadapi permasalahan pangan, dikaitkan dengan gejolak harga, maka pertama-tama yang terlintas adalah pastikan petani yang memproduksi komoditas itu dilindungi dan tetap mendapatkan penghasilan yang layak, yang baik. Yang kedua, pastikan pula konsumen akhir masyarakat kita di pasar, di warung itu bisa membeli atau terjangkau. Mari, nah, diantara itu ada pedagang, diantara itu ada pengusaha, pengusaha pun tentu tidak salah dong kalau mendapatkan keuntungan yang wajar. Yang salah manakala keuntungan itu sangat tidak wajar, petaninya tidak dapat apa-apa, konsumennya pun menjerit karena tidak bisa membeli barang ataupun bahan makanan itu. Inilah gunanya peran pemerintah tetap diperlukan disamping mekanisme pasar yang ada.

    Saya ingin saudara-saudara, saya sadar kalau sudah ada laporan di media, kenaikan cabe, bawang putih, merah, beras, minyak. Saya panggil Menteri Keuangan, mana coba diperiksa minggu ini seperti apa. Saya lihat satu, persatu itu berapa naiknya? Kenapa? Propinsi ini kenapa naik ini? Propinsi ini kenapa tidak dan seterusnya. Karena itulah rakyat kita, rakyat tidak terlalu peduli dengan yang serba muluk-muluk. Tapi kalau itu dia rasakan stabil, ada keuntungan yang layak, mudah, terjangkau. Itulah yang diharapkan mereka. Jadi saya minta betul saudara-saudara, kita semua, mulai dari saya, menteri, gubernur, bupati, walikota harus peduli seperti itu. Karena mereka tidak terlalu banyak diharapkan oleh rakyat, tidak minta yang muluk-muluk, tetapi kebutuhan hidup sehari-harinya pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan dan sebagainya.

    Saudara-saudara

    Menutup dari ini semuanya, begini. Wah, masuk koran, masuk televisi kejadian misalkan di kabupaten X, tiga minggu kelaparan di dua kecamatan, kecamatan A dan kecamatan B, masih belum dapat diatasi. Sudah 19 orang dirawat di rumah sakit karena ternyata kekurangan pangan. Kemarin, anak umur 4 tahun meninggal karena rumah tangga itu sudah kekurangan pangan. Kalau membaca itu, mestinya pak Bupati nggak bisa tidur, pak Gubernur juga, saya juga. Meskipun kabupaten itu menonjol, investasinya bagus, gedungnya tinggi, investor datang, pak Bupatinya sering kunjungan kerja, studi banding ke negara yang lain. Tetapi kalau yang muncul kekurangan gizi, benar loh ya benar, yang diingat itu, jasa yang lain nggak diingat. Padahal bagus investasi, banyak achievement, tapi begitu ada kisah itu, itu selamanya diingat. Dan untuk Pilkada lagi harus masuk pasar berkali-kali nanti supaya hilang memori itu.

    Saya mengambil contoh-contoh yang seperti itu, supaya mudah kita ingat, itulah amanah kita, kita bersama-sama saudara-saudara. Saya juga memikirkan semuanya datang. Kita ingin sama-sama berhasil. Kalau kita sama-sama berhasil, rakyat pastilah senang. Saya juga tahu tugas Bupati, Walikota, Gubernur tidak mudah, tidak mudah banyak sekali masalah. Saya pun demikian, Menteripun demikian. Marilah kita terus bersinergi bersama-sama kita jalani. Tidak usah sangat terganggu manakala kritik bertubi-tubi, maju kena mundur kena, kanan salah-kiri salah. Dan pers, mungkin dari parlemen, dari pengamat, tidak apa-apa. Dengarkan, barangkali ada yang bisa kita ambil, selebihnya go on, move on. Karena kita harus bekerja dan terus bekerja untuk masyarakat yang kita bimbing.

    Itulah tambahan dari saya khusus dan akhirnya saudara-saudara dengan harapan, ajakan dan instruksi saya tadi, dengan terlebih dahulu memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa Allah SWT dan dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Konferensi Dewan Ketahanan Pangan Tahun 2010 saya nyatakan dibuka dan kita mulai gerakan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal.

    Sekian, terimakasih.

    Wassalaamualaikum Warahmatulah Wabaratuh.

    *****

    Biro Pers dan Media

    Rumah Tangga Kepresidenan

    Sumber Berita : Badan Ketahanan Pangan

Leave a Reply