Menyemai Benih Optimisme

Apa yang kita tanam hari ini, akan kita tuai nanti. Layaknya berkebun, di awal kita butuh banyak modal untuk lahan, bibit unggul, pupuk, dan selama beberapa waktu harus merawatnya. Bahkan organisme pengganggu seperti ulat dan penyakit lain harus dijauhkan. Dan ketika fase tumbuh itu telah lewat, masa panen dengan penuh keuntungan akan didapatkan.

Menjadi Pemeran Utama

Dalam peran kebaikan, sebanyak-banyaknya kita harus mengambil bagian saham yang paling banyak. Investasi kebaikan jangan sampai dilewatkan. Kadang yang pertama, ia menjadi utama. Jadilah pelopor jangan hanya pengekor. Setiap zaman ada orang terbaiknya, setiap ruang amal ada pemain utamanya. Dalam setiap pekerjaan ada orang nomor satunya. Di setiap lingkaran dari seluruh wilayah perjuangan, ada orang-orang yang layak dan bisa menjadi pemeran utama.

Bangsa ini butuh sosok pemimpin yang kuat. Yang mau tampil menjadi pemeran utama, yang siap juga dengan resiko dan tantangan yang akan menghadangnya. Pemeran utama itu harus mampu menginspirasi banyak pemuda dan juga menggerakkan potensi bangsa. Sosok pemersatu, yang mampu menguatkan simpul-simpul yang sudah longgar akibat kecurigaan, perselisihan dan dendam di masa lalu. Siapa pemeran utama itu? Bisa jadi saya, anda, dan siapapun! Dalam setiap lingkaran perjuangan, pasti ada pemeran utamanya.

Defisit Optimisme

Bandingkan, hari ini kita memiliki banyak persyaratan untuk optimis. Tapi, kita sering memilih membicarakan kegagalan, bukan keberhasilan. Mengungkap yang belum dicapai, bukan yang sudah dicapai. Menuding yang salah-salah, bukan memperbanyak cerita sukses. Akibatnya, republik ini dirudung pesimisme. Republik ini mengalami defisit optimisme.

Bangsa ini masih dalam taraf tumbuh. Butuh modal besar untuk terus maju. Dan yang paling besar adalah modal tekad untuk maju, yaitu optimisme. Optimisme tersebut menurut Anis Baswedan hanya ”modal awal”. Coba tengok masa lalu. Ketika republik ini didirikan, para pemimpin memiliki seluruh persyaratan untuk pesimistis. Kemiskinan merata, kebodohan di mana-mana, kekerasan merebak, dan kekacauan juga terjadi di mana-mana. Negara tanpa anggaran. Tetapi, mereka memilih optimis. Mereka gandakan optimisme itu menjadi optimisme kolektif seluruh bangsa. Kombinasi antara integritas tinggi para pemimpin dan optimisme kuat menjadi pendorong kemajuan republik muda ini. (Jawa Pos, 05/07/10)

Mengeluh Membuat Kita Lumpuh

Sudah terlalu banyak keluhan, rengekan, hinaan dan sumpah serapah yang diterima negeri ini. Bukan dari orang lain, bukan! Tapi dari anak bangsa negeri sendiri. Kita terlalu sering menengok ke belakang, terlalu sering menengok kaca spion. Padahal jika berkendara, harus tetap juga menatap tegak ke depan. Melihat rintangan apa yang akan dilewati dan hambatan-hambatan di depan. Berita yang menghiasi sekitar kita lebih diwarnai oleh kerusuhan, kejahatan, ketidakadilan, dan parodi para pemimpin negeri.

Media yang salah satu fungsinya adalah mendidik, belum bisa mengambil peran dengan baik. Media adalah agen kostruksi sebuah peristiwa. Dalam pandangan positivis, media adalah sarana bagaimana pesan diteruskan dan disebarkan dari komunikator ke penerima. Sedangkan dalam pandangan konstruksionis media bukanlah saluran bebas, ia juga subjek yang mengkonstruksi realitas, lengkap dengan pandangan, bias, dan pemihakannya. Lewat berbagai intrumen yang dipunya, media ikut membingkai realitas apa yang ada sesuai dengan keinginannya. Dan disinilah peran redaksi dan crewnya.

Acara-acara inspiratif yang membangkitkan asa, seperti kick andy menjadi sebuah acara yang patut diperbanyak dan diikuti good will yang baik dari pemerintah. Beberapa edisinya antara lain, Berprestasi di Negeri Orang, Tunas-tunas Harapan Bangsa, dan Negeri 5 Menara memancarkan sebuah optimisme dan semangat anak bangsa.

f9599abe35f6e1ed3f8d0a259e61f9b3 Menyemai Benih Optimisme

Tags: , , ,

:1: :2: :3: :4: :5: :6: :7: :8: :9: :10: :11: :12: :13: :14: :15: :16: :17: :18: :19: :20: :21: :22: :23: more »

Leave a Comment