Oct 10
22
Petani Untung Bangsa Untung
(Oleh : Zainuri Hanif)
Kita ini negara besar, tapi kadang-kadang kita tidak menyadari itu. Negara ini keempat terbesar di dunia, setelah China, India dan Amerika. Tiga negara yang sekarang menjadi raksasa ekonomi dunia. Indonesia punya semua persyaratan untuk menjadi negara besar yang bahkan tidak semua negara bisa memilikinya; matahari yang bersinar setiap tahun, bumi dengan segala berbagai kekayaannya (energi), keaneragaman tumbuhan dan hewan, hujan merata sepanjang tahun, dan jumlah manusianya sangat besar. Jadi, kita tidak punya alasan tidak menjadi sejahtera.
Namun, kita masih merasa bahwa bangsa ini malang benar nasibnya. Banyak kekayaan alam yang dirampok, pemimpinnya yang diharapkan memecahkan masalah justru sebagai sumber masalah. Di bidang pertanian, negara agraris ini masih nyenyak tidur, tanahnya banyak menganggur. Justru negara kecil seperti Singapura, yang tidak punya lahan pertanian bisa-bisanya membeli produk pertanian dari Indonesia dan menjualnya lagi dengan harga lima kali lipat lebih tinggi di pasar internasional hanya bermodal label nama seperti yang terjadi pada produk buah kita. Pernah pula heboh mengenai paten tempe oleh Jepang dan Amerika, buah impor dan buah serba Bangkok yang membanjiri pasar domestik, plasma nutfah yang banyak dicuri peneliti asing, dan yang tak kalah ironis kisah hukum yang tidak adil tentang pencuri beberapa butir kakao, semangka, dan juga kapas, bahkan banyak tulisan di media bernada mengecam dan senantiasa menuding biang keladi permasalahan yang ada adalah kebijakan pemerintah.
Hal-hal seperti ini tidak perlu terus diperdebatkan siapa yang salah. Jangan terus meratapi masa lalu, tataplah tegak masa depan. Ibaratnya janganlah ketika berkendara kita senantiasa menengok kaca spion, yang lebih penting adalah perhatian kepada jalan yang ada di depan. Dan tentu, yang paling penting adalah kita melakukan apa yang bisa kita lakukan, walau sebuah langkah kecil namun berarti.
Cita-Cita yang Menjulang, Kemampuan Pas-pasan
Dengan mengambil teladan Kaisar Teno (Meiji), memandang pertanian dengan visi 25-50 tahun ke depan bukan sebuah pengkhayalan intelektual tanpa dasar, melainkan suatu keharusan untuk memandu jalannya kebijakan nasional yang dijalankan. Pertanian Indonesia selepas reformasi bagai kapal besar yang berjalan tanpa peta navigasi. Program yang ada masih berjangka pendek dan hanya dipahami internal Departemen Pertanian, namun kurang terkait dengan eleman lain. Padahal kewenangan pembangunan itu terbagi-bagi dalam berbagai departemen.
Kita punya kesepakatan dunia mengenai masalah pengentasan kemiskinan dan ketahanan pangan yang dituangkan sebagai tujuan pertama dan kedelapan dari delapan tujuan Millenium Development Goals (MGDs). Sasaran yang ingin dicapai adalah: (1) penurunan proporsi penduduk miskin dengan pendapatan kurang dari $ 1 per hari sebesar 50% selama periode 1990-2015; dan (2) penurunan proporsi penduduk yang kelaparan sebesar 50% selama periode 1990-2015. Menurut data BPS, jumlah petani mencapai 44 persen dari total angkatan kerja di Indonesia, atau sekitar 46,7 juta jiwa. Lebih dari separuhnya merupakan petani gurem dan buruh tani dengan kepemilikan lahan dibawah 0,5 hektar atau mencapai 38 juta keluarga tani. Kemiskinan terbesar juga disumbangkan oleh sektor pertanian. Laporan World Development Report (WDR) 2003 menyebutkan, di negara-negara berkembang, bertani masih merupakan cara paling efektif untuk meningkatkan pendapatan masyarakat miskin pedesaan. Bagi masyarakat termiskin, pertumbuhan PDB yang berasal dari pertanian empat kali lipat lebih efektif untuk mengurangi kemiskinan dibandingkan sektor lain. Oleh karena itu, tidaklah salah jika kesejahteraan Indonesia dimulai dengan menyejahterakan petani.
Malaysia sekarang, boleh dibilang sudah maksimum kemajuannya. Penduduknya berkisar 25 juta. Lahannya sudah temanfaatkan semua, akhirnya banyak pengusahanya yang berinvestasi ke Indonesia, misalnya di perkebunan sawit. Apalagi Singapura, sangat rentan sebagai negara mandiri. Andai warga Indonesia sepakat semua untuk tidak berkunjung lagi, ekonomi SIngapura pasti terguncang. Sedangkan kita masih punya sejuta peluang. Namun kenapa masih saja tertinggal? Miskin kreativitas, juga keterbatasan dana adalah ironi besar yang membatasi ruang gerak pengembangan pertanian kita. Yang kita pikirkan selama ini adalah bagaimana menyikapi keterbatasan, maka selamanya keterbatasan menjadi realitas kita. Kelimpahan tidak pernah menjadi kenyataan karena kita memang tidak pernah memikirkannya.
Masa depan Indonesia ditentukan oleh generasi muda yang mau dan giat membangun berbagai sektor strategis bangsa sebagai pilar-pilar pembangunan. Ada sebuah kisah dari teman yang mendapat nasihat dari dosennya. Dalam sebuah kelas kuliah di kampus, seorang dosen dengan bersemangat memotivasi mahasiswanya agar ketika lulus untuk masuk perusahaan besar seperti Astra Internasional, Exxon Mobile, Total, Cevron, Freeport, dan perusahaan internasional lainnya yang pola kerja dan manajemannya terbukti maju. Peluang berkiprah dan berprestasi sangat kondusif, jauh dari intrik-intrik gombal. “Sebagai lulusan terbaik, sebaiknya kalian tidak masuk perusahaan-perusahaan BUMN yang korup, malas dan nyatanya sekarang ini memang tidak lebih baik dari perusahaan asing”, ujar sang dosen. Namun, di kelas kuliah berikutnya, dosen lain justru menasehati sebaliknya. “Kalian harus masuki perusahaan-perusahaan BUMN kita agar berubah lebih baik. Penyebab selama ini tidak berkembang dan maju karena lulusan terbaik negeri ini justru memilih bekerja di perusahaan asing!”
Untuk merangsang minat pemuda terjun di bidang pertanian, harkat dan martabat petani harus diangkat. Buang jauh-jauh serba murah, ganti dengan istilah terjangkau. Petani juga punya hak untuk hidup sejahtera. Dalam kesempatan kunjungan pelatihan beberapa waktu yang lalu, ternyata petani jeruk pamelo magetan memperoleh keuntungan lumayan dari bertani. Selama setahun mereka bisa untung bersih Rp 40-50 juta/ha, bahkan kulit dari jeruk pamelo yang sebelumnya hanya dimanfaatkan menjadi mainan anak-anak dan kadang menjadi sampah ternyata bisa juga dibuat manisan yang bernilai jual tinggi. Demikian juga dengan petani jeruk manis pacitan di Selorejo, Kab.Malang. Selama setahun mereka bisa mendapatkan keuntungan Rp 40 Juta/ha. Sekarang ini mereka sedang mengganti dengan jenis jeruk keprok yang harga jualnya dua kali lipat. Namun keuntungan itu belum begitu dirasakan karena kebanyakan petani kita kepemilikan lahannya kurang dari 0,5 Ha.
Relokasi penduduk tani ini menjadi program utama pengentasan kemiskinan di sektor pertanian. Realisasi program ini adalah: pertama, menggiatkan kembali transmigrasi ke luar Jawa untuk memanfaatkan lahan tidur. Kedua, program peningkatan kemampuan wirausaha tani untuk selanjutnya didorong agar mendirikan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Dan ketiga, melalui program peningkatan kemampuan SDM petani dengan pembekalan ketrampilan khusus di sektor industri manufaktur berbasis agro. Lahan kita sebenarnya masih luas, namun penyebarannya tidak merata dan masih banyak tanah yang menganggur. Karena lahan kita masih luas, kita masih belum membutuhkan teknologi hight cost seperti Jepang yang mengembangkan proyek pertanian bawah tanah Pasona O2 yang terletak di pusat bisnis kota Tokyo. Pasona O2 merupakan lahan ditengah perkotaan dimana pertanian dan tanaman ditumbuhkembangkan tanpa penerangan matahari.
Pengembangan pertanian ke depan hanya bisa dilakukan dengan aparatur SDM pemerintah yang kredibel dari pusat hingga pemerintah daerah. Percepat regenerasi birokrasi dengan tenaga muda yang bersih. Pensiunkan dini PNS yang tidak credible. Dan gunakan pendekatan teknologi. Penggunaan pendekatan masa lalu untuk menyelesaikan masalah saat ini dan masa depan, seperti yang dilakukan selama ini, harus dihentikan karena terbukti tidak dapat menyelesaikan masalah.
Lompatan Besar dengan Dana Kecil
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menduduki peringkat ke-201 berdasarkan World Rank Research Center. Dalam daftar tersebut, LIPI merupakan yang terbaik di negeri ini, bahkan di Asia Tenggara.. Dalam daftar 2.000 lembaga riset dunia terbaik yang tercantum pada Top 2.000 Webometrics itu juga terdapat dua lembaga Indonesia lain, yaitu Center for International Forest Research (Cifor) pada peringkat ke-425, dan Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian pada peringkat ke-771 (Kompas 24/08/09). Sedangkan alokasi anggaran nasional untuk riset tidak lebih dari 0,1% GDP sangat jauh dibandingkan negara berkembang lainnya seperti Malaysia 0,7% GDP, China 1,4%, apalagi dengan negara maju seperti Jepang 3,2% dari GDP (Indikator Iptek LIPI 2005).
Dengan dana seperti itu, ternyata lembaga penelitian Indonesia masih mampu menunjukkan kualitasnya. Douglas Osheroff, penerima Nobel Fisika tahun 1996 mengatakan, “Dana memang perlu, tetapi bukanlah faktor yang utama untuk mencapai keberhasilan dalam sebuah penelitian yang besar.” Yang lebih diutamakan adalah challenging mind yang “never give up, whatever happen badly”.
Penelitian yang dibutuhkan dengan dana yang terbatas itu harus benar-benar berguna di masyarakat. Terutama pasca panen dalam kerangka agroindustri. Penelitian terapan harus lebih banyak, tidak sebagaimana sekarang dimana perbandingan penelitian Indonesia dari hulu dan hilir yaitu 8:1 untuk Perguruan Tinggi (PT) dan 4:1 untuk non PT. Harus ada terobosan untuk mencari lebih banyak dana riset di tengah keterbatasan keuangan nasional, yaitu sebanyak mungkin bekerjasama dengan R&D industri swasta dan menerapkan skala prioritas. Penelitian untuk sebuah lompatan besar harus aplikatif, sosialisasi dalam jurnal perlu terus ditindaklanjuti dalam skala industri. Jangan sampai kita hanya mengekspor ke negara lain tanpa adanya added-value.
Ke depan, reformasi kebijakan dalam hal peningkatan dana penelitian dan intensif yang memadai bagi peneliti dan ilmuwan mutlak diperlukan. Keberhasilan Pakistan dalam mengejar ketertingalan dari India tidak terlepas dari sosok Dr. Atthaur Rahman yang pada tahun 2000 diangkat oleh Presiden Perves Musharaf sebagai Menteri Pendidikan TInggi dan Ilmu Pengetahuan Pakistan. Atthaur Rahman mau diangkat sebagai menteri dengan syarat: “Fisrt, government must increase higher education budget this year by 100%, then followed by 50% every years to come until 5 years. Secondly, Government must increase research expendicture by 6000%, and lastly, government must pay Pakistani outstanding scientists four higher than cabinet ministers! If you agree with my policy, I’m ready to be your minister!” Pervest Musharraf setuju dengan policy ini. Dan dalam lima tahun, kemajuan ilmu pengetahuan dan industri di Pakistan sudah mendekati India (2nd World Science Forum). Lantas bagaimana dengan Indonesia? Kita adalah bangsa besar! Semua kekayaan sudah dimiliki. Jadi, kita tidak punya alasan tidak menjadi sejahtera. []






















