Jangan Pernah Kalah

tembok besar china Jangan Pernah KalahSaudaraku,

Suatu ketika, mungkin kita pernah berpikir, betapa berat dan kerasnya perjalanan hidup ini. Saat hati kita seolah tak mampu lagi menahan beban masalah. Saat kita merasa lunglai, lemah dan berat melangkahkan kaki, merasa tak kuat dan bingung menghadapi berbagai suasana hidup yang sulit dan berat. Ketika kita tak lagi merasa mampu berdiri menopang beban berat yang harus dipikul.

Tidak. Itu bukan tanda-tanda kelemahan yang patut disesali. Sebab manusia memang diciptakan dalam keadaan serba lemah. Tapi Allah berjanji tidak akan menimpakan beban masalah kepada seseorang, di atas batas kemampuan orang tersebut untuk memikulnya.

Buya Hamka pernah mengatakan, tingkat cobaan iman itu tak ubahnya dengan anak tangga yang bertingkat-tingkat. Tiap satu anak tangga dinaiki, datang dari bawah suatu pukulan hebat mengenai tubuh orang yang mendaki. Kalau tanga kuat bergantung, kalau kaki kuat berpijak, dan kalau akal pikiran tetap waspada, pukulan itu malah akan mendorong menaikkannya ke atas yang lebih tinggi. Tapi kalau tangan lemah, kaki tidak kuat, akal hilang, pikiran kusut, maka pukulan itu akan dapat merobohkan. Yang paling disayangkan, kalau robohnya tidak hanya satu dua buah anak tangga ke bawah, tapi jatuh ke anak demi anak tangga di bawah yang sangat banyak. Bahkan karena lemahnya, seseorang sulit bangkit lagi.

Dalam ungkapan yang lain Imam Hasan Al Basri mengatakan, “Ketika badan sehat dan hati senang, semua orang mengaku beriman, Tetapi setelah datang cobaan barulah diketahui benar tidaknya pengakuan itu. Orang yang ingin permintaannya cepat terkabul hari ini dan tidak sabar menunggu, itulah orang yang lemah iman.”

Saudaraku, coba renungkan…

Memang, ada orang pintar yang hidupnya miskin, orang bodoh yang hidupnya kaya, pembela kebenaran hidup terisolir, orang kafir kaya raya memiliki berbagai harta benda, berbidang-bidang tanah, orang Islam yang menjadi pemulung dan penyapu jalanan, sedangkan orang Yahudi bergelimpang kuasa dan pengendali perusahaan elit bahkan ekonomi dunia.

Tapi renungkan lagi, saudaraku…

Nabiyullah Ya’qub harus kehilangan anaknya, Yusuf yang sangat dicintainya. Bertahun-tahun kemudian hilang pula adiknya yang bernama Bunyamin. Ketika anak yang kedua itu hilang, karena ditangkap oleh wakil raja Mesir yang sebenarnya adalah Yusuf sendiri, Ya’qub tidak berputus asa berharap pada Allah. Dia hanya menerima kejadian itu dengan harapan yang lebih besar, “Semoga Allah mengembalikan anak-anakku itu semuanya.” (Yusuf: 83). Katanya lagi, Sabarlah yang lebih baik, dan kepada Allah-lah tempat meminta tolong.” (QS. Yusuf: 18)

Bagaimana penderitaan Nabiyullah Yusuf as sendiri? Ia tidak disukai oleh saudara-saudaranya sejak kecil. Bahkan dilempar ke dalam sumur yang gelap gulita. Diperdagangkan sebagai budak belian. Lalu dijebloskan ke penjara meski ia tak pernah melakukan kejahatan sedikitpun.

Lihatlah Nabiyullah Musa Alaihissalam. Ia dilahirkan dalam kondisi sangat memprihatinkan. Dikirimkan dalam sebuah peti oleh ibunya ke sungai Nil karena takut dibunuh oleh Fir’aun. Setelah besar diutus menjadi Nabi, dan sekian lama menumpang di rumah ayah angkatnya sendiri, Fir’aun. Setelah itu datang petunjuk dari Allah bahwa ayat angkat itulah musuhnya. Allah membebani kehidupan yang sungguh berat pada Nabi Musa. Dari miskin dan dari bangsa yang miskin, menempuh perjuangan di antara kekafiran yang sangat kuat dan besar.

Lihat juga nabiyullah Ibrahim. Cobaan apa yang melebihi cobaan yang menimpa kekasih Allah itu? Imanny diuji dengan ujian yang beratnya tiada tandingnya. Diperintahkan untuk menyembelih anak kandung sendiri.

Mana yang lebih besar penderitaan kita dengan penderitaan Nabi Adam? Bersenang-senang dalam surga dengan istrinya, lalu diperintahkan untuk keluar. Di mana kesulitan kita dibandingkan penderitaan Nabi Nuh, yang menyeru umat pada Islam sementara anaknya dan istrinya sendiri tidak mau menjadi pegikutnya. Bahkan ketika Allah memerintahkannya untuk naik perahu, anaknya tetap menolak dan akhirnya tertelan dalam gulungan banjir. Isa Al Masih pun seperti itu. Rasulullah Muhammad lebih-lebih lagi.

Pernahkah mereka mengeluh? Tidak. Mereka yakin bahwa iman kepada Allah memang menghendaki perjuangan, pengorbanan sekaligus keteguhan hati. Mereka tidak terlalu menuntut kemenangan lahir, karena memang mereka selalu menang di alam bathin. Mereka memikul beban berat, menjadi Rasul Allah, memikul perintah Allah, dank arena itulah mereka tempuh kesulitan. Pertama untuk membuktikan kecintaannya pada Allah, dan kedua untuk menggembleng bathinnya agar menjai semakin kokoh.

Saudaraku,

Di situlah tersimpan kekuatan iman. Bukan pada sujud dan ruku’. Sujud dan ruku’ hanya laksana dahan yang berasal dari batang keimanan. Dahan akan kurus, daun akan kering, bila batang tak memiliki akar yang kuat, kokoh dan tak mudah goyah diterpa angin dan badai. Dahan dan ranting dangat bergantung oleh suplai makanan dari batang dan akar. Batang dan akar itulah substansi iman.

Saudaraku, sekali lagi…

Jangan pernah kalah oleh cobaan hidup. Tidak semua permintaan kita harus dikabulkan. Karena Allah-lah yang lebih mengenal bathin kita dari pada kita sendiri. Imam Ibnul Qayyim member permisalan, bahwa seorang anak-anak belum pantas diberi uang lebih daripada akalnya, karena belum tentu ia bahagia jika permintaannya terkabul. Teka-teki hidup ini sangat banyak. Jangan menyangka Allah lemah menolong hamba-Nya.

Saudaraku,

Lalu, kapan dan bagaimana pertolongan dan bantuan Allah itu? Ibnu ‘Athaillah member pengarahan yang sangat bagus dalam hal ini. “Tampilkan dengan sungguh-sungguh sifat kekuaranganmu niscaya Allah menolongmu dengan sifat-sifat kesempurnaan-nya. Bersungguh-sungguhlah dengan kehinaanmu, niscaya ia menolongmu dengan kemuliaan-Nya. Bersungguh-sungguhlah dengan ketidakberdayaanmu, niscaya ia menolongmu dengan kekuasaan-Nya. Bersungguh-sungguhlah dengan kelemahanmu niscaya Ia menolongmu dengan daya dan kekautan-Nya.

Pertolongan, bantuan, dukungan, kemenangan dari Allah itu pasti. “Adalah hak bagi kami menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Ruum:47). Sedetik pun Allah tak pernah meninggalkan hamba-Nya yang beriman. Dan, jika Ia berkehendak, tak ada yang dapat menghalangi turunnya pertolongan dan bantuan-Nya. Masalahnya hanya ada pada proses turunnya pertolongan dan bantuan itu. Karenanya, sekali lagi, jangan pernah kalah oleh cobaan.

Sumber: Tarbawi edisi 15 Th.2 Desember 2000 M/Ramadhan 1421 H

Tags: , , , , , ,

:1: :2: :3: :4: :5: :6: :7: :8: :9: :10: :11: :12: :13: :14: :15: :16: :17: :18: :19: :20: :21: :22: :23: more »

Leave a Comment