Seribu Jalan untuk Sedekah

Siapa bilang kita hanya bisa bersedekah dengan harta. Senyum pun bisa menjadi jalan sedekah. Bahkan menyingkirkan batu atau duri di tengah jalan merupakan sedekah pula. Logikanya begini, ketika batu ditengah jalan sisa dari bantalan truk yang tidak disingkirkan kemudian tidak sengaja tertabrak orang sampai terguling dan masuk RS, itu pun konsekuensi biaya pengobatan muncul. Keluar harta juga kan? Nah, teman saya pernah mengalaminya, terguling dan harus dirawat di RS, motornya pun rusak. Padahal kadang ketika kita menemui batu di jalan dan kebetulan tidak mengenai kita, kita lewat saja. Jarang ada yang berbalik, berhenti dan menyingkirkannya agar tidak mencelakai orang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengisahkan bahwa ada seorang laki-laki yang masuk surga karena ia menyingkirkan duri yang berada di suatu jalan, yang dilakukan dengan tujuan agar tidak mengganggu kaum muslimin. Sebab itu, Allah subhanahu wa ta’ala menerima amal baiknya tersebut dan mengganjarnya dengan balasan yang lebih baik. Subhanallah. Dalam sebagian riwayat dari Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah pula, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada seseorang laki-laki yang melewati ranting berduri berada di tengah jalan. Ia mengatakan, ‘Demi Allah, aku akan menyingkirkan duri ini dari kaum muslimin sehingga mereka tidak akan terganggu dengannya.’ Maka Allah pun memasukkannya ke dalam surga.”

Bahkan umat Islam bisa bersedekah dengan pohon. “Tidak seorang muslim pun yang menanam suatu tanaman melainkan bagian yang dimakan dari pohon tersebut adalah sedekah baginya, bagian yang dicuri dari pohon tersebut adalah sedekah baginya, bagian yang dimakan oleh burung-burung adalah sedekah baginya, serta bagian yang dikurangi oleh seseorang juga sedekah baginya.” (H.r. Al-Bukhari, 8:118; Muslim, 8:176; At-Tirmidzi, 5:253)

Sedekah dalam bentuk lain adalah Ilmu. Dengan mengajarkan ilmu, membuat orang lain mengikuti kebaikan, pahalanya akan senantiasa mengalir. Orang yang mencari ilmu pun akan dimudahkan jalannya. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (H.R Muslim)

Ilmu Lebih Afdhal daripada Harta

Ilmu lebih afdhal daripada harta, sebab ia warisan Rasul dan Anbiya’, sementara emas-perak-permata, dilungsurkan Fir’aun, Qarun, dan raja-raja. Ilmu lebih utama dibandingkan harta, sebab ilmu menjaga pemiliknya, sementara pemilik harta bersusah payah menjaga kekayaannya. Ilmu lebih hebat daripada harta. Jika ilmu menguasai harta, jadi mulialah keduanya. Jika harta menguasai ilmu, kan terhinalah keduanya. Ilmu lebih agung dibanding harta, sebab kekayaan akan berkurang jika dibelanjakan, sementara pengetahuan bertambah jika dibagi-bagi. Ilmu lebih setia daripada harta. Ilmu menyertai pemiliknya menuju kematian dan kebangkitan. Tapi harta tak mau serta dan tetap di dunia.

Bagi pemilik harta, alangkah banyak musuh yang jahat dan kawan tak tulus. Sementara pemilik Ilmu, akan banyak saudara dan sedikit lawannya. Di akhirat kelak, pemilik harta akan rumit urusan sebab berbelitnya hisab, sementara pemilik Ilmu akan mendapat kemudahan dan syafa’at. Mencintai Ilmu, punya maupun tidak, adalah mata air kebajikan. Mencintai harta, baik memilikinya ataupun papa, adalah sumber keburukan.

Sulit menemukan kemaksiatan yang ditujukan untuk memperoleh Ilmu. Bertabur banyaknya kedurhakaan yang ditujukan untuk mendapat harta.

Pemilik harta hanya digelari yang baik-baik jika membagi kekayaannya. Pemilik Ilmu, digelari yang baik-baik sejak berburu pengetahuan. Tamak terhadap Ilmu, membuat mulia di depan guru, kawan, dan lawan. Tamak terhadap harta, menjijikkan di mata orang miskin maupun kaya.

Sedekah Utsman bin Affan

Pada suatu waktu, kaum muslimin tidak mempunyai air untuk minum. Memang ada sumur yang airnya bagus, tapi sumur itu milik orang Yahudi  dan mereka menaikkan harga air sumur itu untuk kaum Muslimin. Maka Utsman r.a. membeli setengah sumur itu dari orang Yahudi sehingga penggunaan air itu dibagi dua : sehari untuk si Yahudi dan sehari lagi untuk Utsman r.a. Kemudian Utsman r.a. menggunakan hari yang ditetapkan untuk dirinya itu guna dimanfaatkan oleh kaum Muslimin tanpa memungut bayaran. Karena itu, pada saat giliran si Yahudi, tidak ada lagi orang yang mau membeli air darinya. Akhirnya, orang Yahudi itu menjual sahamnya atas sumur tersebut kepada Utsman r.a. Dan Utsman r.a. selanjutnya menghadiahkan sumur itu kepada kaum Muslimin.

Pada zaman Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., seperti diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., pernah terjadi kekeringan dan kelaparan nasional. Dalam situasi seperti itu, ada orang yang tamak dan ingin mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dengan menaikkan harga komoditas barang dagangannya.

Akan tetapi, dalam situasi seperti itu kita dapati Utsman r.a. memberikan contoh yang baru dan mulia dalam bersedekah di jalan Allah dengan mengharap balasan dan pahala dari-Nya. Di samping itu, ia juga berusaha keras untuk menenangkan kaum Muslimin dan mengurangi beban kesulitan mereka.

Pada suatu hari, datanglah orang-orang kepada Khalifah Abu Bakar r.a. dan mengadukan tentang kesulitan mereka. Mendengar pengaduan tersebut, Abu Bakar r.a. berkata, “Allah akan menolong kalian dan membebaskan kalian dari kesulitan ini.”

Pada siang harinya, datanglah kafilah dagangan, yaitu dagangan milik Utsman r.a. Kafilah tersebut terdiri dari seribu ekor unta yang masing-masing membawa gandum dan makanan.

Mendapati hal itu, para pedagang segera mendatangi Utsman r.a.. Mereka berkata kepadanya, “Saat ini orang-orang sedang kekurangan bahan pangan. Kebetulan engkau membawa komoditas-komoditas yang dibutuhkan ini dari Syam, yaitu gandum dan makanan lainnya. Oleh karena itu, juallah barang-barang tersebut kepada kami, sehingga engkau dapat mengambil untung dan kami pun mendapat untung.” Mendengar perkataannya itu, Utsman r.a. kemudian mengajaknya masuk dan duduk bersamanya. Setelah itu, Utsman r.a. bertanya kepada mereka, “Berapa banyak keuntungan yang berani kalian berikan kepadaku jika kujual barang-barang itu kepada kalian ?

Mereka berkata, “Setiap sepuluh dirham modal akan kami berikan keuntungan dua dirham.”

Utsman r.a. berkata, “Ada yang memberikan keuntungan kepadaku lebih dari itu.”

Mereka berkata, “Kami akan tambahkan keuntunganmu dua kali lipat, yaitu kami akan berikan empat dirham sebagai ganti dari dua dirham tadi.”

Utsman r.a. berkata kepada mereka, “Ada yang menjanjikanku keuntungan yang lebih banyak lagi dari itu. “Mendengar itu para pedagang itu pun merasa heran. Lalu mereka bertanya, “Kami adalah para pedagang yang ada di Madinah ini, maka siapa lagi selain kami yang berani menjanjikan keuntungan lebih besar dari kami ? “Utsman r.a. berkata, “Allah swt memberikan keuntungan lebih tinggi dari kalian. Karena dari setiap satu dirham, Dia memberikan untung sepuluh dirham. Sesuai dengan firman Allah swt : “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.” (Al-An’aam: 160)

Hai para pedagang, lihatlah! Aku menyedekahkan barang-barang ini untuk kaum Muslimin karena mengharapkan keridhaan Allah swt.

 

Tags: , ,

:1: :2: :3: :4: :5: :6: :7: :8: :9: :10: :11: :12: :13: :14: :15: :16: :17: :18: :19: :20: :21: :22: :23: more »

Leave a Comment