Dunia Tanpa Kita

“Andai manusia pergi”, kata ahli ornithology Steve Hilty, “setidaknya satu per tiga di antara semua burung di bumi barangkali bahkan tidak akan menyadari.”

dunia tanpa kita the world without us1 300x199 Dunia Tanpa Kita

The images were created for the Wildlife Conservation Society's Mannahatta Project, which launched April 20 and includes a book, museum exhibition, and Web site. The yearlong celebration of Manhattan's natural history aims to recreate the island as it appeared 400 years ago, on the day English explorer Henry Hudson arrived in 1609.

Yang ia maksudkan adalah burung-burung yang tidak pernah meninggalkan habitatnya di cekungan-cekungan rimba Amazon yang masih terisolasi, atau di hutan-hutan semak berduri di kawasan Australia yang jauh atau di lereng-lereng gunung Indonesia yang senantiasa terselimuti awan. Apakah hewan-hewan lain yang barangkali sadar tentang kejadian ini –satwa-satwa liar yang terus-menerus mengalami stress karena diburu dan kini terancam punah seperti biri-biri bertanduk besar atau badak hitam misalnya- akan berpesta pora merayakan kepergian kita.

Kita bisa membaca emosi sedikit satwa, yang sebagian besar telah kita jinakkan, misalnya anjing dari beberapa majikan mereka yang ramah, kendati sebagian harus menukarnya dengan kebebasan mereka sendiri. Spesies hewan yang kita anggap paling cerdas –lumba-lumba, gajah, burung betet, dan simpanse- barangkali tidak terlalu merasakan kehilangan. Walalupun kita sering melakukan berbagai upaya yang serius untuk melindungi mereka, yang berbahaya bagi mereka biasanya justru kita.

Adapun Abdulhamid Cakmud berpendapat, “Dunia dihadirkan untuk melayani manusia, sebab manusia adalah yang paling dihormati oleh semua makhluk.” Ada siklus dalam kehidupan. Dari benih muncul pohon, dari pohon muncul buah yang kita makan, dan kita memberikan kotoran kita kepada benih. Segal sesuatu dimaksudkan untuk melayani manusia. Kalau manusia hilang dari siklus ini, alam akan berakhir dengan sendirinya.” Tanda-tanda akhir zaman itu sudah nampak. “Kita telah melihat tanda-tandanya,” kata Cakmut. Keselarasan telah dilanggar. Orang baik kalah banyak. Ketidakadilan, eksploitasi, korupsi, polusi makin banyak.

central park restlus 300x225 Dunia Tanpa Kita

gambar: http://restlus.com

Kota Tanpa Manusia

Pandangan bahwa pada suatu hari alam dapat menelan segalanya termasuk sebuah kota modern dengan bangunan-bangunan yang begitu banyak dan serba kokoh tidak mudah kita masukkan dalam imajinasi khayalan kita. Kedahsyatan dan kemegahan sebuah New York City cenderung menolak setiap upaya untuk menggambarkan kemusnahannya. Peristiwa 11 September 2001 hanya menunjukkan yang dapat diperbuat manusia dengan bahan peledak, bukan proses-proses kasar seperti erosi dan pelapukan. Keruntuhan dahsyat World Trade Center yang terjadi dalam sekejap lebih menunjukkan kepada kita sifat-sifat para penyerangnya ketimbang tentang kerentanan mematikan yang dapat terjadi pada seluruh infrastuktur yang ada. Bahkan musibah yang pernah tak terbayangkan itu hanya berpengaruh kepada beberapa bangunan saja. Bagaimanapun, waktu yang dibutuhkan oleh alam untuk menyingkirkan yang telah dibangun oleh warga kota barangkali ebih singkat daripada yang kita bayangkan.

Sewaktu manusia mulai berkeliling ke seluruh dunia, mereka membawa pergi benda-benda hidup dari tempat asal dan membawa pergi benda-benda hidup lain dari tempat pengembaraan. Tumbuhan-tumbuhan dari Amerika mengubah tidak hanya ekosistem di negara-negara Eropa tetapi juga termasuk jati diri mereka. Bayangkan Irlandia sebelum adanya kentang, atau Italia dan Spanyol sebelum adanya tomat. Di arah sebaliknya, benih-benih seperti gandum, sawit, barley dan rye dibawa negara penjajah kolonialisme ke negara jajahannya. Menurut ahli geografi Amerika Alfred Crosby, imperialism ekologi memudahkan bangsa-bangsa penakluk dari Eropa menancapkan kuku mereka di koloni-koloni masing-masing.

Sebagian hasilnya konyol, seperti taman-taman Inggris dengan hyacinth dan daffodil yang tidak pernah dominan di koloni India. Di New York, burung jalak Eropa –sekarang ada di mana-mana sebagai burung hama dari Alaska hingga Meksiko– didatangkan karena ada orang yang berpendapat bahwa kota itu akan lebih berbudaya jika Central Park dihuni oleh setiap burung yang disebutkan dalam karya-karya Shakespeare.

Banyak tanaman hias asing –mawar biasa, misalnya– akan punah bersama peradaban yang memperkenalkan mereka, sebab mereka hibrida steril yang berbiak melalui penyetekan. Ketika para tukang kebun yang memperbanyak mereka pergi, begitu pula tanaman-tanaman itu. Tumbuhan colonial lain seperti Ivy Inggris terpaksa harus bertahan hidup sendirian, untuk akhirnya kalah oleh sepupu mereka yang berangasan dari Amerika, Virginia creeper dan jelatang.

Masih ada tumbuhan lain yang sesungguhnya produk mutasi, lahir melalui persilangan yang sangat selektif. Andai mereka mampu bertahan, bentuk dan keberadaan mereka akan memburuk. Tanpa perawatan, buah-buahan seperti apel –produk impor dari Rusia dan Kazakhstan– bakal terseleksi berdasarkan ketangguhan, bukan karena penampilan maupun rasa, berubah menjadi kasar dan buruk rupa. Kecuali sebagian kecil yang mampu bertahan hidup, kebun-kebun apel yang tidak disemprot, tanpa daya melawan serangan hama asli, ulat apel dan jamur daun, akan dikuasai kembali oleh tanaman keras asli. Sayuran akan kembali ke kondisi semula yang seadanya. Wortel manis asal Asia akan segera bervolusi balik menjadi wortel liar yang hewan pun tidak mau memakannya.

 

Akhir Penjelajahan Manusia

Chuck Peters dari Kebun Raya New York mengungkapkan, “Secara Botani kita mengidap xenophobia. Kita sayang kepada spesies-spesies asli, maka kita ingin spesies-spesies tumbuhan eksotik namun agresif itu pulang.” Penelitiannya telah menyingkap bahwa kantung-kantung pohon kelapa sawit liar jauh di tengah Amazon atau pohon-pohon durian di hutan perawan Borneo, atau pohon the di tengah hutam rimba Myanmar, bukanlah suatu kebetulan. Entah kapan, manusia pasti pernah ke sana. Belakangan alam liar menelan mereka termasuk kenangan mereka, tetapi wujudnya masih merekam gaung mereka.

Tiga kali dalam 100.000 tahun terakhir, gletsyer telah menyapu New York sampai bersih. Kecuali kegilaan manusia dengan bahan bakar karbon berakhir dengan terlampauinya titik batas kemampuan atmosfer sehingga pemanasan bumi tak terkendali mengubah total bumi menjadi Venus, suatu saat gletsyer akan datang lagi. Setelah es surut kembali, apa pun yang pernah tergerus dan terbawa oleh gletsyer dan akhirnya diendapkan akan membentuk lapisan-lapisan geologi. [zh]

 

Sumber bacaan:

Weisman, Alan. 2009. The World Without Us. Penjelasan mencengangkan tentang apa yang terjadi pada bumi bila manusia tidak ada lagi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

zainuri hanif, desember 2011

 

 

Tags: , , , , , ,

:1: :2: :3: :4: :5: :6: :7: :8: :9: :10: :11: :12: :13: :14: :15: :16: :17: :18: :19: :20: :21: :22: :23: more »

Leave a Comment